Terlalu Fokus ke EV Bisa Lemahkan Ekosistem Otomotif Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri otomotif Jepang masih mendominasi pasar kendaraan bermotor di Indonesia, dengan kontribusi signifikan terhadap pembentukan struktur industri nasional dan penciptaan lapangan kerja. Namun, perhatian pemerintah yang terlalu besar pada kendaraan listrik murni (EV) dinilai belum seimbang dan berpotensi melemahkan fondasi ekosistem yang sudah dibangun Jepang selama puluhan tahun.
Ketua Indonesia-Japan Parliamentary League dan President of the Indonesia-Japan Friendship Association (PPIJ), Rachmat Gobel, menilai pendekatan kebijakan pemerintah perlu lebih inklusif. Menurutnya, teknologi kendaraan hibrida dan hidrogen juga layak mendapat insentif dan dukungan, bukan hanya EV.
"Jangan karena (tren) EV, EV semua diberikan perhatian. Padahal ada teknologi hidrogen dan sekarang juga ada hybrid," ujar Gobel di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Ia menekankan bahwa kebijakan berbasis teknologi masa depan harus mempertimbangkan nilai tambah dan visi jangka panjang, bukan hanya mengikuti tren pasar global. Hal ini penting untuk menjaga daya saing industri otomotif nasional dan mendorong transfer teknologi.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pembangunan industri berbeda dengan sekadar membangun pabrik. Menurutnya, membangun industri berarti menciptakan pasar, menyiapkan SDM, serta mengembangkan teknologi dalam negeri secara menyeluruh.
"Jepang itu dalam membangun industri otomotif sudah membentuk piramida industri sampai tier 3. Lapangan kerja yang tercipta lebih dari 250 ribu orang. Ini harus dijaga," tegas Gobel.
Diolah dari data Gaikindo, merek-merek otomotif asal Jepang tercatat masih menguasai hampir 88% pasar kendaraan ringan (light vehicle) di Indonesia. Toyota memimpin dengan pangsa pasar sebesar 33,4%, disusul Daihatsu (18,8%), Honda (10,9%), dan Mitsubishi (8,3%) pada kuartal I/2025. Sementara merek asal China seperti BYD mulai menunjukkan kenaikan signifikan, namun pangsa pasarnya masih di bawah 5%.
Baca Juga
Rachmat Gobel: Pemerintah Jangan Abaikan Investor Lama, Jepang Bangun SDM Lewat 'Hitozukuri'
Kementerian Perindustrian RI sebelumnya telah mendorong peningkatan investasi Jepang di sektor otomotif, termasuk dalam pengembangan sumber daya manusia dan ekspansi pasar dalam negeri.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut bahwa rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih rendah, yakni 99 unit per 1.000 penduduk, dan bisa menjadi peluang strategis bagi pelaku industri Jepang.
Dengan kontribusi besar terhadap ekonomi nasional, peran Jepang di industri otomotif Indonesia dinilai masih sangat strategis. Namun, tantangan dari produsen global lainnya dan dinamika kebijakan dalam negeri akan menentukan keseimbangan antara pembangunan berkelanjutan dan transformasi teknologi di sektor ini.

