Indonesia Perlu Waspadai 'Transshipment Tariff' yang Dikenakan AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Riandy Laksono mengatakan terdapat isu yang lebih besar dari pengenaan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke negara mitra dagang. Isu tersebut yaitu transshipment tariff.
“Kalau kita melihat hanya dari satu sisi, yaitu tarif itu tidak cukup. Tetapi, ada qualifier yang lebih besar yaitu ada pada isu transshipment,” kata Riandy, di kantor CSIS, Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Transshipment melibatkan pemindahan kargo dari satu kapal ke kapal lain dalam perjalanan ke negara tujuan. Kegiatan ini sering dilakukan untuk menyamarkan negara asal suatu produk agar dapat menghindari pungutan impor.
Riandy menjelaskan konsep ini mirip dengan aturan rules of origin yang terdapat dalam free trade agreement (FTA). Isu transshipment ini sedang dibuat AS karena tendensinya tidak hanya menghambat produk “made in China” secara langsung, namun tendensinya kepada “made by China”.
Baca Juga
Negosiasi Tarif Resiprokal 32% dengan AS Digencarkan, Pemerintah Tak Berikan Tawaran Tambahan
“Artinya, pabrik-pabrik yang merelokasi ke negara lain juga berpotensi dihambat. Ini karena biasanya pabrik yang pindah akan membawa bahan bakunya dan ini yang kemudian dilabeli sebagai transshipment,” ujar dia.
Isu transshipment ini berdampak terhadap investasi. Berbeda dengan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump jilid pertama yang dapat membawa investasi ke wilayah Asia Tenggara.
“Karena isu transshipment ini Asean juga dihambat. Karena ekspor-ekspor dari Asean masih juga berbasis bahan baku dari China dan juga kawasan,” ucap dia.
Menurut Riandy, tarif resiprokal yang diberikan ke Vietnam sebesar 20% bukanlah sebuah keberhasilan. Untuk itu, Indonesia perlu melihat tetap mengupayakan penurunan tarif, namun dengan kerangka perjanjian yang tidak diskriminatif.
Indonesia perlu memikirkan bagaimana negara-negara tetangga termasuk dengan China mengenai keputusan ini. “Kita solider terhadap negara tetangga tetapi juga bahan baku dan bahan dari negara-negara tetangga,” ujar dia.

