Negosiasi Tarif Resiprokal 32% dengan AS Digencarkan, Pemerintah Tak Berikan Tawaran Tambahan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia masih berupaya bernegosiasi untuk menurunkan tarif resiprokal yang dikenakan pemerintah Amerika Serikat (AS) ke Indonesia sebesar 32%. Negosiasi dipimpin langsung Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Juru bicara Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan, Menko Airlangga langsung bernegosiasi dengan tiga perwakilan pemerintah AS. Airlangga akan berunding dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, dan Kepala United State of Trade Representative (USTR) Jamieson Greer.
Pertemuan akan digelar dalam satu hingga tiga hari ke depan. Proses yang singkat ini dilakukan, karena Airlangga harus menemani Presiden Prabowo Subianto ke Brussel, Belgia, pada akhir pekan ini. Sebelum pertemuan tersebut, tim negosiasi Indonesia di AS sudah menjalani serangkaian pertemuan dalam sepekan terakhir ini.
Baca Juga
Tarif Impor 32% dari AS Tak Goyahkan IHSG, Analis Sebut Investor Tetap Optimistis
“Itu merupakan respons dari pemerintah Indonesia terhadap surat yang disampaikan oleh pemerintah AS kepada pemerintah Indonesia,” kata Haryo dalam konferensi pers yang digelar di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (9/7/2025).
Dia mengatakan, pemerintah AS tak perlu kecewa dengan tawaran yang akan diberikan Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan negara strategis perdagangan global.
Selain mengupayakan penurunan tarif, Haryo mengatakan, perusahaan-perusahaan asal Indonesia didorong untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan asal AS. Penandatanganan kerja sama akan dilakukan sebelum Trump mengumumkan tarif. “Ini bisa menjadi sweetener untuk upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah, jadi selain government-to-government ada juga business-to-business,” jelas dia.
Haryo menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia terkejut dengan putusan Trump yang mempertahankan tarif impor sebesar 32% terhadap produk dari Indonesia. Padahal, proposal Indonesia dianggap telah baik.
Baca Juga
Di kompleks parlemen, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, pemerintah tidak menyiapkan tawaran tambahan untuk AS. Ini dilakukan karena tawaran dari pemerintah Indonesia dianggap cukup oleh pemerintah AS.
Menjelang masa berlakunya tarif pada 1 Agustus, Prasetyo mengatakan telah berkoordinasi dengan Airlangga terkait proses negosiasi. Meski begitu, Prasetyo menyangkal mengenai upaya pemberian bebas tarif masuk untuk produk AS ke Indonesia sebagai bagian dari tawaran. “Belum sampai ke sana,” jelas Prasetyo.
Prasetyo menjelaskan bahwa ancaman tarif impor tambahan 10% bagi anggota BRICS tidak akan mengubah posisi Indonesia untuk bergabung dengan organisasi ini. Jika akhirnya dikenakan, Indonesia siap menghadapi tarif tambahan itu sebagai konsekuensi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan akan terus berkomunikasi dengan tim negosiasi. Terutama mengenai tarif dan non-tariff barrier yang menjadi perhatian AS. “Kami terus mengorganisasikan langkah-langkah apa yang perlu untuk tetap bisa berikan tambahan, diharapkan tetap pada awal Agustus kita bisa mendapatkan term yang lebih baik,” kata Sri Mulyani.
Baca Juga
Berdasarkan informasi Kedutaan Besar AS, Kemenko Perekonomian dan KBRI di Washington DC menggelar pertemuan bisnis tingkat tinggi. Pelaku industri Indonesia di sektor strategis yaitu energi dan pertanian, menggelar kesepakatan dagang. Pada 7 Juli 2025, Airlangga dan Kedutaan Besar Indonesia di Washington, D.C memang telah menyelenggarakan serangkaian pertemuan bisnis tingkat tinggi.
Para pemimpin industri Indonesia dari sektor strategis, seperti PT Pertamina ikut hadir dalam pertemuan. Dari sektor Asosiasi Pertekstilan Indonesia, diwakili PT Busana Apparel Group. Sektor pertanian diwakili oleh FKS Group dan Sorini Agro Asia Corporindo, dua perusahaan itu mewakili perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia. Selain itu, ada perwakilan dari Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan dan komitmen komersial, sebagaimana tercermin dalam penandatanganan berbagai nota kesepahaman, yang membuka jalan bagi peluang kerja sama baru dan memperdalam hubungan ekonomi bilateral.
Sejumlah kesepakatan kerja sama yang telah disiapkan, seperti MoU Indonesia’s Wheat Producer dan US Wheat Associates, MoU Sorini Agro Asia Corporindo dan Cargill terkait pembelian jagung, MoU FKS Group and Zen-Noh Grain Corp terkait pembelian Soybean and Soybean Meals, MoU PT Kilang Pertamina International and ExxonMobil, MoU PT Kilang Pertamina Internasional dan KDT Global Resource, hingga MoU antara PT Kilang Pertamina Internasional dan Chevron.
Pemerintah mengungkapkan demi menurunkan tarif resiprokal 32% dari AS, Indonesia berencana untuk membelanjakan US$ 34 miliar. Airlangga menyampaikan hal tersebut dalam rangka meningkatkan impor dari AS agar menyeimbangkan surplus perdagangan AS dengan RI yang saat ini masih mencatatkan defisit.
Baca Juga
RI Kena Tarif Impor Trump 32%, Menperin Agus: Jangan Panik, Negosiasi Berlanjut
Selain itu, nilai tersebut juga termasuk dengan rencana investasi yang akan Indonesia lakukan di AS. Meski demikian, saat ditanya perincian terkait kesepakatan apa saja yang akan ditingkatkan impornya dan investasi apa saja, dirinya belum dalam menyampaikannya.
“Detailnya sedang kita bahas, tetapi totalnya sebesar itu (US$ 34 miliar) untuk barang dan investasi,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, Kamis (3/7/2025).

