Ekspor Sawit Indonesia Terancam Anjlok Imbas Tarif Impor 32% dari AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ekspor sawit Indonesia diprediksi tertekan setelah Amerika Serikat (AS) menetapkan tarif impor sebesar 32% berlaku mulai 1 Agustus 2025. Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi daya saing produk sawit RI di pasar AS.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, menyampaikan bahwa tarif tinggi tersebut sangat mungkin menyebabkan penurunan ekspor, meski angka pastinya belum bisa dikalkulasi kini.
Baca Juga
Negosiasi Tarif Resiprokal 32% dengan AS Digencarkan, Pemerintah Tak Berikan Tawaran Tambahan
“Apabila tarif tetap di angka 32%, ada kemungkinan ekspor sawit ke AS akan turun. Besarnya berapa, kami masih sedang hitung,” kata Eddy kepada Investortrust.id, Kamis (10/7/2025).
Menurut data Gapki, ekspor minyak sawit ke AS sempat mencetak rekor pada 2023 mencapai 2,5 juta ton, namun turun menjadi 2,2 juta ton pada 2024. Saat ini, pangsa pasar Indonesia di pasar minyak sawit AS mencapai 89%.
Eddy memprediksi bahwa para importir di AS kemungkinan besar akan mengalihkan pembelian ke negara lain, seperti Malaysia atau negara-negara Amerika Latin yang memiliki tarif impor lebih rendah dibandingkan Indonesia.
Baca Juga
Tarif Impor 32% dari AS Tak Goyahkan IHSG, Analis Sebut Investor Tetap Optimistis
Sebagai langkah antisipasi, Gapki mendorong perluasan pasar ekspor ke wilayah non-tradisional seperti Afrika, Timur Tengah, Rusia, dan Asia Tengah. Upaya ini dilakukan sembari mempertahankan pasar utama seperti China, India, Pakistan, dan Uni Eropa yang saat ini menjadi empat besar tujuan ekspor sawit Indonesia.
“Jangan sampai pasar utama ikut turun. Gapki butuh dukungan penuh dari pemerintah karena diversifikasi ini perlu dilakukan bersama,” tegas Eddy.

