ESDM: Selama Dunia Butuh Terang, Industri Batu Bara Tak Boleh Padam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai, sektor pertambangan batu bara menjadi pilar penting dalam mendukung ketahanan energi nasional. Adapun Kalimantan merupakan kontributor utama produksi batu bara nasional. Selama dunia masih membutuhkan terang, industri ini tidak boleh padam.
Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati mengungkapkan, pada 2024 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor minerba mencapai Rp 140,460 triliun atau 123,75% target, setara dengan 52% total PNBP sektor ESDM.
Sementara itu, Kalimantan menyumbang sekitar 688 juta ton atau 82% total produksi batu bara Indonesia. Kalimantan Timur sebagai kontributor sebesar 368 juta ton, disusul Kalimantan Selatan 237 juta ton, Kalimantan Tengah 39 juta ton, Kalimantan Utara 28 juta ton, dan Kalimantan Barat 15 juta ton
Baca Juga
Ekspor Batu Bara Indonesia ke China Anjlok, Ini 3 Penyebab Utamanya
“Selama dunia masih membutuhkan terang, industri ini tidak boleh padam. Kita buktikan bahwa tambang batu bara Indonesia bisa berdaya, beretika, dan bermakna,” kata Rita dalam keterangannya, Kamis (10/7/2025).
Pemerintah pun mengajak semua pihak untuk berkolaborasi menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, dia menyoroti pentingnya hilirisasi batu bara sebagai kunci transformasi industri tambang Indonesia.
“Produk turunan, seperti DME (dimethyl ether), metanol, semi-cokas, dan material karbon maju harus menjadi masa depan industri tambang, bukan sekadar menggali dan menjual raw coal,” ucap dia.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Priyadi menyebut, batu bara bukan hanya komoditas, melainkan instrumen pembangunan yang membuka akses, mendorong ekonomi, dan menciptakan peradaban baru.
Baca Juga
Batu Bara Paling Banyak, KAI Angkut 33 Juta Ton Barang pada Semester I
Kalimantan Timur dinilai sebagai kontributor utama sektor energi nasional sekaligus kekuatan besar dalam keanggotaan APBI. Di tengah tekanan global, seperti penurunan harga dan ketidakpastian geopolitik, Priyadi mengajak seluruh pihak untuk tetap adaptif, kolaboratif, dan berkomitmen pada keberlanjutan.
“Industri ini harus tetap kuat, tetapi juga harus bertanggung jawab secara sosial dan ekologis untuk keberlanjutan,” tegasnya.

