Defisit Migas US$ 1,53 Miliar, Prabowo Inginkan Kemandirian Energi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti neraca perdagangan komoditas minyak dan gas bumi (migas) yang mengalami defisit US$ 1,53 miliar pada bulan Mei 2025. Defisit itu harus ditekan dan hal ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah.
Dia menegaskan, Presiden Prabowo Subianto sejatinya menginginkan kemandirian energi. Jika hal itu bisa terwujud, maka defisit neraca perdagangan dari sektor migas bisa dikurangi.
“Defisit dari migas US$ 1,53 miliar. Bapak Presiden minta agar program kemandirian energi bisa dilaksanakan. Dengan kemandirian energi, maka tentu defisit ini kita akan kurangi,” kata Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (2/7/2025).
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia di bulan Mei 2025 tercatat positif US$ 4,3 miliar. Rinciannya adalah ekspor non-migas surplus US$ 5,83 miliar dan sektor migas defisit US$ 1,53 miliar.
Baca Juga
Defisit Migas Rp 332 Triliun, Pertamina Genjot DME dan Jargas untuk Kurangi Impor LPG
“Jadi kalau kita lihat neraca perdagangan Indonesia di bulan Mei kembali surplus yang ke-61 bulan berturut-turut,” ujar Airlangga.
Sementara itu, jika menengok ekspor di bulan Mei 2025 sebesar US$ 24,61 miliar, dan impornya US$ 20,31 miliar. Menurut Airlangga, di tengah situasi ini perlu juga dilihat inflasi sebesar 1,87% secara year-on-year dan 1,35% secara year-to-date.
“Artinya angka inflasi kita pun di bawah target 2,5% plus minus 1%. Jadi sebetulnya perekonomian kita masih on the track. Namun akibat dari perang dagang, memang PMI kita turun di 47,4%,” jelasnya.
Baca Juga
Impor Migas Habiskan Rp 654 Triliun per Tahun, Prabowo: Seharusnya Digunakan untuk Bantu Rakyat

