Defisit Migas Rp 332 Triliun, Pertamina Genjot DME dan Jargas untuk Kurangi Impor LPG
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina (Persero) menyebutkan, Indonesia masih membutuhkan impor liquefied petroleum gas (LPG) yang besar, mengingat tingginya permintaan dalam negeri. Hal ini membuat Indonesia mencatatkan defisit migas yang besar, yaitu US$ 20,40 miliar (Rp 332 triliun). Untuk itu, Pertamina akan menggenjot proyek dimethyl ether (DME) dan jaringan gas rumah tangga (jargas).
Direktur Utama PT Pertamina Simon Alosius Mantiri mengungkapkan, kebutuhan LPG dalam negeri kurang lebih di atas 8 juta metric ton per tahun, sementara produksi nasional sekitar 1,6 juta ton, sehingga untuk menutupi gap perlu dilakukan impor.
Baca Juga
Pertamina Rombak Direksi dan Komisaris, Wamen Investasi Jadi Wakil Komut Gantikan Dony Oskaria
Menurut dia, untuk mengatasi defisit gas sekaligus mewujudkan swasembada energi yang menjadi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, perlu dilakukan sejumlah langkah strategis. Di antaranya mendorong proyek dimethyl ether (DME) dan jargas.
“Untuk mengatasi itu, antara lain memang saat ini salah satu program yang akan didorong adalah DME sebagai substitusi dari LPG. Selain itu, tadi sudah disampaikan juga untuk jaringan gas,” kata Simon dalam konferensi pers "Capaian Kinerja Pertamina Tahun 2024" di Jakarta, Jumat (13/5/2025).
DME merupakan program hilirisasi batu bara yang tengah dikembangkan pemerintah sebagai energi alternatif pengganti LPG. Karakteristik DME memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG. Lantaran mirip, DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang, seperti tabung, storage dan handling eksisting.
Sementara itu, jargas merupakan jaringan pipa yang dibangun untuk menyalurkan gas bumi (gas alam) hingga ke rumah tangga dan pelanggan kecil. Saat ini, Pertamina mengoperasikan 820.000 sambungan jargas. Ditargetkan pada 2025, akan dibangun tambahan 200.000 sambungan, meski saat ini baru terealisasi 60.000.
“Dengan demikian ini adalah pekerjaan rumah bagi kami. Tentunya dengan dukungan dari pemerintah, kami akan terus meningkatkan agar infrastruktur gas bisa semakin maksimal dan bisa menjadi alternatif sumber energi murah bagi masyarakat,” ujar Simon.
Baca Juga
Pertamina Cetak Laba Rp 49,5 Triliun, Ini Fakta Menakjubkan Kinerja 2024 yang Bikin Bangga
Simon memaparkan, salah satu kendala jaringan gas adalah sulit menjangkau wilayah-wilayah kepulauan. Dengan demikian, perlu memikirkan alternatif atau solusi lainnya.
“Jaringan gas yang apabila ini diwujudkan tentunya akan semakin banyak gas kita yang termanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga sehingga mengurangi impor kita untuk kebutuhan LPG,” tegas dia.
Kinerja 2024
PT Pertamina (Persero) mengumumkan pencapaian laba sebesar US$ 3,13 miliar (Rp 50,9 triliun) sepanjang 2024. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan 2023 sebesar US$ US$ 4,77 miliar (Rp 76,5 triliun). Meski demikian, target 1 juta barrel oil per day (BOPD) minyak pada 2028 tetap digenjot.
Direktur Keuangan PT Pertamina Emma Sri Martini mengungkapkan, penurunan ini terjadi karena memburuknya seluruh parameter di global, baik itu harga minyak mentah (crude price/ICP), minyak mentah Brent, hingga Mean of Plats Singapore (MOPS).
“Kalau dilihat dari seluruh parameter global, terjadi perburukan dari seluruh parameter, baik itu Brent, crude price (ICP), MOBS, yang semuanya melandai,” kata Emma dalam konferensi pers Capaian Kinerja Pertamina Tahun 2024 yang berlangsung di Jakarta, Jumat (13/5/2025).
Sementara menurut sumber, dividen Pertamina tahun buku 2024 sekitar Rp 41 triliun.
Sepanjang 2024, Pertamina telah melakukan pengeboran intensif dan masif dengan 22 exploration, 821 development, 981 workover, serta 36.860 well intervention well services (WIWS).

