Danantara Suntik Investasi ke PGE untuk Pacu Target 3 GW Energi Panas Bumi
JAKARTA, Investortrust.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) akan melakukan investasi di Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE bagian PT Pertamina New Renewable Energy (NRE) yang menjadi subholding power & new renewable energy untuk menggenjot energi panas bumi hingga 3 gigawatt (GW).
"Kami membahas rencana penandatanganan head of agreement (HoA) dan memorandum of understanding (MoU) untuk proyek-proyek prioritas agar dapat segera masuk pipeline eksekusi investasi," kata CEP Danantara Rosan Roeslani di kantor Danantara, Jakarta, Selasa (24/6/2025) dikutip dari Instagram pribadinya @rosanroeslani.
Baca Juga
Saham Pertamina Geothermal (PGEO) bisa Cuan 35,15%, Intip Faktor Pendorong Ini
Rosan mengatakan, fokus pertemuan jajaran direksi Pertamina Geothermal Energy tersebut dalam rangka pengembangan energi geotermal hingga 3 GW.
Hadir dalam kesempatan itu, Direktur Utama PGE Julfi Hadi, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi, dan Direktur Keuangan PGE Yurizki Rio. "Ini merupakan langkah penting dalam mempercepat transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan," kata Rosan.
Rosan mengatakan, pertemuan juga membahas Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, khususnya dalam kerangka integrasi proyek-proyek geotermal.
"Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi katalis percepatan hilirisasi energi dan pendorong pertumbuhan ekonomi hijau nasional," kata Rosan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pernah menyatakan, dalam RUPTL 2025-2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik baru hingga 69,5 GW sampai 2034.
Dari total 69,5 GW tersebut, porsi untuk pembangkit fosil akan dibangun 16,6 GW atau sebesar 24%. Sementara itu, sebesar 42,6 GW atau 61% dari pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) dan 10,3 GW atau 15% berasal dari sistem penyimpanan (storage).
Adapun, dari seluruh jenis pembangkit EBT, sumber energi surya memiliki porsi yang cukup besar yakni 17,1 GW. Disusul air sebesar 11,7 GW, angin sebesar 7,2 GW, panas bumi sebesar 5,2 GW, bioenergi sebesar 0,9 GW, dan nuklir sebesar 0,5 GW. Lalu, untuk kapasitas sistem penyimpanan energi mencakup PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan baterai 6,0 GW.
Sementara PGE mengelola kapasitas terpasang sebesar 1.877,5 megawatt (MW). Dari kapasitas tersebut, PGE mengoperasikan 672,5 MW secara mandiri, sementara sisanya sebanyak 1.205 MW dijalankan lewat skema joint operation contract (JOC).
Baca Juga
Saham Pertamina Geothermal (PGEO) Melesat Saat Masuk Ex-dividen, Apa Pemicunya?
Sepanjang 2024, PGE membukukan produksi listrik sebesar 4.827,22 gigawatt hour (GWh), meningkat 1,96% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan produksi ini terutama didukung beberapa wilayah kerja utama, seperti Kamojang naik 5,36%, Lahendong naik 0,40%, dan Lumut Balai sebesar tumbuh 2,72%.
PGE menetapkan target rencana kapasitas terpasang mandiri mencapai 1 GW dalam 2 tahun ke depan, serta menargetkan total kapasitas hingga 1,7 GW pada 2033.
Untuk mewujudkan hal tersebut, PGE terus mempercepat eksplorasi dan pengembangan wilayah kerja panas bumi (WKP) baru, salah satunya proyek Lumut Balai Unit 2 yang beroperasi pada pertengahan 2025.

