Gobel: Idealnya Indonesia Terus Menjaga dengan Baik Hubungan dan Kemitraan dengan Jepang
NAGOYA, Investortrust.id – Pemerintah Indonesia idealnya menjaga dengan baik hubungan dan kemitraan dengan negara yang sejauh ini menjadi penyumbang foreign direct investment, dan membuka sejumlah basis produksi dan manufaktur di Indonesia. Salah satunya adalah Jepang yang telah meninggalkan jejak industri di Tanah Air lewat kehadiran Toyota-Daihatsu, Panasonic, Honda dan nama-nama besar manufaktur dunia lainnya yang telah membangun basis produksi.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang Rachmat Gobel di sela kunjungannya ke Toyota Commemoratove Museum of Industry and Technology di Nagoya, Jepang, Rabu (16/4/2025), Jepang adalah negara yang selama 65 tahun konsisten berinvestasi di Indonesia. Bahkan ketika iklim investasi di Indonesia belum bisa dikatakan baik, Jepang sudah masuk menanamkan modalnya di industri manufaktur.
“Jepang bukan baru kemarin masuk (ke Indonesia). Menurut saya pemerintah Indonesia harus mampu memberikan ‘lebih’, salah satu caranya adalah memberikan insentif ketika Jepang ingin masuk berinvestasi kembali di Indonesia,” ujar Gobel kepada para pimpinan media massa yang menyertainya berkunjung ke Nagoya. “Dan itu harus lebih (baik) lagi (insentif yang ditawarkan, red),” imbuhnya.
Ia mencontohkan Toyota dan sejumlah perusahaan besar asal Jepang yang dari waktu ke waktu terus menambah volume investasinya ke Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk menopang kebutuhan teknologi baru di negara yang menjadi sasaran investasinya, seperti Indonesia, sehingga produksi dari manufaktur yang berbasis di Indonesia bisa kompetitif di kancah persaingan global.
Baca Juga
Bos Toyota (TMMIN) Yakin Kebijakan Tarif Trump Tak Surutkan Ekspor Otomotif
Di sisi lain, lanjut Gobel, Indonesia juga harus mengimbangi investasi dari Jepang dengan komitmen yang baik untuk membangun industri otomotif, elektrik, dan elektronik, termasuk tekstil di level domestik. “Jadi bukan hanya sekadar mendorong mereka membuat pabrik di Indonesia dan menyerap tenaga kerja,” ujarnya.
Karena pada dasarnya Indonesia sebagai negara besar harus memiliki dukungan teknologi dan menguasai teknologi tersebut sebagai bagian dari perangkat untuk pengembangan perekonomian, hingga pertahanan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Gobel juga memastikan bahwa komitmen pemerintah Jepang untuk tetap menjaga basis industrinya di Indonesia, hingga minat investasinya masih tetap tinggi. Menurutnya Jepang memiliki sejarah yang panjang dengan Indonesia, dan memiliki semacam utang moral akibat langkah kolonialismenya di periode Perang Dunia II.
“Ketika saya bicara dengan para (pengusaha) senior-senior (Jepang), mereka punya utang moral akibat masa perang dunia lalu. Makanya mereka ingin berbuat sesuatu (untuk Indonesia). Didukung hubungan diplomatik kita yang sudah 65 tahun,” tutur Gobel.
Hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia, lanjut Gobel, diiringi pula oleh komitmen investasi di Indonesia. Setidaknya, kata Gobel, selama sekian tahun investasinya di Indonesia, untuk Toyota saja telah menggelontorkan dana sebesar lebih dari US$ 10 miliar.
Baca Juga
Gobel: Indonesia Bisa Ikut Menjadi Negara Maju dari Investasi Jepang
Dampak positifnya yang bisa dirasakan tentunya Indonesia kini telah dikenal sebagai salahs atu eksporter produk otomotif, dan serapan tenaga kerja yang besar di sejumlah industri yang menjadi keranjang investasi sejumlah manufaktur Jepang. “Komitmen membangun dan mendukung industri hingga tier 5 bahkan sudah dilakukan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gobel juga mengimbau pemerintah untuk terus mengevaluasi sejumlah regulasi yang dinilai bisa menghambat proses masuknya investasi. Ia juga menyoroti kerap berubahnya kebijakan yang bisa membuat tidak nyaman para investor untuk melabuhkan dananya di Tanah Air.
“Pertama adalah kemudahan berinvestasi, proses. Kita sudah buat aturan yang memudahkan investasi, tapi implementasinya masih kurang,” sorot Gobel.
Berikutnya Gobel sedikit menceritakan sejarah berdirinya Toyota Motor Corporation yang sejatinya dibangun dari perusahaan pembuat mesin tekstil. “Toyoda saat itu ingin agar ibunya lebih mudah dalam memproduksi kain, sehingga ia menciptakan mesin tekstil, dan berikutnya berkembang ke divisi otomotif yang kini berkembang besar,” tutur Gobel
Sekadar ilustrasi, Toyota Motor Corporation didirikan pada September 1933 sebagai divisi mobil Pabrik Tenun Otomatis Toyoda. Divisi mobil perusahaan tersebut kemudian dipisahkan pada 28 Agustus 1937 untuk menciptakan Toyota Motor Corporation seperti saat ini.
Berangkat dari industri tekstil, Perusahaan yang memproduksi 1 mobil tiap 50 menit ini ternyata menggunakan penamaan Toyota lebih karena penyebutannya lebih enak daripada memakai nama keluarga pendirinya, Toyoda. Inilah beberapa tonggak menarik perjalanan Toyota.
Toyota merupakan pabrikan mobil terbesar di dunia dalam unit sales dan net sales. Pabrikan terbesar di Jepang ini menghasilkan 8-8,5 juta unit mobil di seluruh dunia tiap tahunnya.
Dibandingkan dengan industri-industri otomotif lain yang menggunakan nama pendirinya sebagai merek dagang seperti Honda yang didirikan oleh Soichiro Honda, Daimler-Benz (Gottlieb Daimler dan Karl Benz), Ford (Henry Ford), nama Toyoda tidaklah dipakai sebagai merek. Karena berangkat dari pemikiran sederhana dan visi waktu itu, penyebutan Toyoda kurang enak didengar dan tidak akrab dikenal sehingga diplesetkan menjadi Toyota.
Sakichi Toyoda lahir pada bulan Februari 1867 di Shizuoka, Jepang. Pria ini dikenal sebagai penemu sejak berusia belasan tahun. Toyoda mengabdikan hidupnya mempelajari dan mengembangkan perakitan tekstil. Dalam usia 30 tahun Toyoda menyelesaikan mesin tenun. Ini kemudian mengantarnya mendirikan cikal bakal perakitan Toyota, yakni Toyoda Automatic Loom Works, Ltd. pada November 1926.

