Smartphone Makin Mahal Imbas Tarif Trump, Penjualan Terancam Lesu
JAKARTA, investortrust.id - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menaikkan tarif hingga 32% terhadap produk ekspor Indonesia diprediksi akan memberikan efek domino bagi industri smartphone. Selain harga yang akan naik, konsumen diprediksi bisa menunda membeli perangkat baru.
Analis pasar smartphone dan Senior Consultant di SEQARA Communications, Aryo Medianto, mengatakan kebijakan tarif Trump ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah yang saat ini sudah berada di kisaran Rp 16.700 per dolar AS.
"Depresiasi ini dapat memperburuk situasi dengan meningkatkan biaya impor barang elektronik, termasuk smartphone, yang pada gilirannya akan mempengaruhi harga jual," kata Aryo saat dihubungi oleh investortrust.id, Jumat (4/4/2025).
Baca Juga
PCO Beberkan 3 Gebrakan Prabowo Jaga Ekonomi RI di Tengah Ketidakpastian Global
Aryo menjelaskan kenaikan harga jual smartphone juga dapat berkontribusi pada inflasi yang berimbas pada penurunan permintaan konsumen.
"Jika konsumen merasa terbebani oleh harga yang lebih tinggi, mereka mungkin menunda pembelian perangkat baru, mengakibatkan penurunan penjualan di sektor teknologi,” katanya menambahkan.
Selain itu, Aryo juga mengungkapkan dampak terhadap rantai pasokan masih harus ditelaah lebih lanjut. Tak tertutup kemungkinan terjadi kenaikan biaya produksi jika ada tindakan balasan dari Indonesia terkait pajak barang asal AS, terutama pada komponen penting, seperti prosesor, chipset, dan teknologi yang digunakan dalam smartphone.
“Saat ini, informasi mengenai potensi kenaikan pajak impor atas berbagai komponen smartphone dari AS masih minim. Namun, jika ada kenaikan tarif pada komponen seperti prosesor dan chipset, biaya produksi akan meningkat, yang berujung pada harga jual yang lebih tinggi,” jelasnya.
Baca Juga
Imbas Tarif Trump, Yield USTreasury 10-Tahun Anjlok ke Level Terendah Sejak Oktober 2024
Sebagai solusi, Aryo menyarankan agar pemerintah segera melakukan negosiasi dengan AS untuk mencari solusi yang lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ia menyebut salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah mempertimbangkan pengurangan tarif atau penerapan kebijakan non-tarif yang dapat mengurangi dampak negatif terhadap industri.
“Bagi produsen smartphone di Indonesia, mereka harus lebih cerdas dalam memberikan rangsangan kepada konsumen untuk meningkatkan daya beli. Promo dan diskon yang lebih besar dan menarik bisa menjadi salah satu strategi untuk menjaga permintaan tetap stabil di tengah tantangan ekonomi yang ada,” pungkas Aryo. (C-13)

