PCO Beberkan 3 Gebrakan Prabowo Jaga Ekonomi RI di Tengah Ketidakpastian Global
JAKARTA, investortrust.id - Presidential Communication Office (PCO) atau Kantor Komunikasi Kepresidenan membeberkan tiga gebrakan Presiden Prabowo Subianto di bidang ekonomi dalam menghadapi ketidakpastian global. Hal itu dibeberkan Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi PCO Noudhy Valdryno merespons pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenakan tarif resiprokal terhadap Indonesia dan sejumlah negara lain. Indonesia masuk dalam daftar 50 negara yang dianggap menikmati surplus perdagangan dengan cara yang tidak fair bagi AS sehingga dikenakan tarif sebesar 32%.
Noudhy mengatakan Prabowo sejak jauh hari sudah mempersiapkan tiga gebrakan besar untuk menghadapi berbagai gejolak perubahan kebijakan global untuk bisa menjaga optimisme dan ketahanan ekonomi Indonesia. Bahkan, katanya, Prabowo sudah merancang berbagai kebijakan strategis ini sejak hari pertama dilantik.
Baca Juga
Imbas Tarif Trump, Yield USTreasury 10-Tahun Anjlok ke Level Terendah Sejak Oktober 2024
"Dalam menghadapi tantangan global, termasuk kebijakan tarif baru Amerika Serikat, Presiden Prabowo menunjukkan ketajaman melihat dinamika geopolitik. Pemahaman mendalam tentang hubungan internasional dan perdagangan global menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia,” kata Noudhy dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (4/4/2025).
Noudhy meyakini ketiga gebrakan yang bersinergi dengan strategi geopolitik yang matang mampu membawa Indonesia tetap tumbuh dan berkembang dalam situasi disrupsi ekonomi global. Berikut tiga gebrakan Prabowo di bidang ekonomi:
1. Memperluas Mitra Dagang Indonesia
Salah satu langkah paling signifikan yang diambil oleh Prabowo adalah memperluas jaringan mitra dagang Indonesia. Pada minggu pertama setelah dilantik, Prabowo mengajukan keanggotaan Indonesia dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), sebuah kelompok ekonomi yang mencakup 40% perdagangan global. Langkah ini semakin memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.
"Keanggotaan Indonesia di BRICS memperkuat berbagai perjanjian dagang multilateral," kata Noudhy.
Dikatakan, Indonesia telah menandatangani perjanjian seperti regional comprehensive economic partnership (RCEP) dengan 10 negara ASEAN sertaAustralia, China, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru, yang mencakup 27% perdagangan global. Selain itu, Indonesia juga telah meneken aksesi menjadi anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mencakup 64% perdagangan global, serta beberapa perjanjian dagang lainnya, seperti CP-TPP, IEU-CEPA, dan I-EAEU CEPA.
"Selain berbagai perjanjian dagang multilateral, Indonesia juga memiliki perjanjian dagang bilateral dengan Korea, Jepang, Australia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Iran, Chile, dan berbagai negara lainnya, yang semakin memperkokohkan daya saing Indonesia di pasar internasional," paparnya.
2. Mempercepat Hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA)
Noudhy mengatakan, sumber daya alam Indonesia yang melimpah selama ini seringkali diekspor dalam bentuk bahan mentah. Untuk meningkatkan nilai tambah, Prabowo memprioritaskan kebijakan hilirisasi industri, salah satunya di sektor nikel. Nilai ekspor nikel dan turunannya yang hanya US$ 3,7 miliar pada 2014 melonjak menjadi US$ 34,3 miliar pada 2022.
Selain itu, Prabowo telah meluncurkan BPI Danantara yang dirancang untuk mempercepat hilirisasi SDA strategis di Indonesia. BPI Danantara akan mendanai dan mengelola proyek hilirisasi di sektor-sektor utama seperti mineral, batu bara, minyak bumi, gas bumi, perkebunan, kelautan, perikanan, dan kehutanan.
Baca Juga
Bitcoin Diyakini Masih Bisa Capai US$ 200.000 di 2025, Meski Ada Kerusuhan Tarif Trump
"Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya meningkatkan daya saing ekspor, tetapi juga tidak lagi bergantung pada investasi asing serta mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan," katanya.
3. Memperkuat Resiliensi Konsumsi Dalam Negeri
Noudhy mengungkapkan, kebrakan ketiga Prabowo adalah memperkuat daya beli masyarakat melalui program-program yang langsung menyentuh kesejahteraan rakyat. Salah satu program unggulan Prabowo adalah program makan bergizi gratis (MBG) yang menargetkan 82 juta penerima manfaat pada akhir 2025. Selain itu, Prabowo juga akan mendirikan 80.000 koperasi desa merah putih yang bertujuan untuk memperkuat ekonomi desa, membuka jutaan lapangan pekerjaan baru, dan mendorong perputaran uang di daerah.
Menurutnya, upaya ini bukan hanya akan meningkatkan konsumsi dalam negeri, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat perekonomian domestik. Dengan mendongkrak konsumsi rumah tangga, yang mencakup 54% dari PDB Indonesia, program ini akan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga
Pasar Jepang Terguncang Tarif Trump, Nikkei Anjlok Lebih dari 2%
Noudhy berharap, dengan tiga gebrakan strategis Prabowo ini, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan posisi sebagai kekuatan ekonomi yang stabil dan optimistis di kawasan Asia Tenggara dan global.
“Dengan memperkuat hubungan dagang internasional, mengoptimalkan potensi sumber daya alam, dan meningkatkan konsumsi dalam negeri, Presiden Prabowo membuktikan bahwa Indonesia dapat tetap tumbuh meskipun di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” kata Noudhy.

