Pemerintah Optimistis Kenaikan Tarif Royalti Minerba Tak Ganggu Iklim Investasi
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai kenaikan tarif royalti atau PNBP di sektor mineral dan batu bara (minerba) diyakini tak ganggu iklim investasi.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan, penyesuaian tarif royalti ini dilakukan mengikuti harga komoditas yang tengah melambung. Misalnya, harga batu bara sempat menyentuh level sekitar US$ 300 per ton.
Baca Juga
“Jadi kita melihat keseimbangan antara biaya produksi dengan bagaimana penerimaan negara, sehingga tetap win-win. Kepastian berusaha pelaku pasar tetap terjaga dengan baik. Di lain pihak, negara tetap mendapatkan pendapatan dari kegiatan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan kegiatan PKP2B khususnya,” ujar Yuliot di Sekretariat Kementerian ESDM, Jumat (14/3/2025).
Disebutkan oleh Yuliot, usulan ini tengah dikaji melalui revisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 26 Tahun 2022 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Kementerian ESDM.
Konsultasi juga mencakup revisi PP No. 15 Tahun 2022 tentang Perlakuan Perpajakan dan/atau PNBP di Bidang Usaha Pertambangan Batu Bara. Hal ini sudah dirapatkan dengan Sekretaris Negara dan Kementerian Keuangan.
Baca Juga
Tarif Royalti Dinaikkan, Begini Dampaknya bagi Perkiraan Kinerja Emiten ANTM hingga MDKA
“Itu akan melihat bagaimana penyesuaian-penyesuaian. Jadi, kita juga dalam penyesuaian royalti tadi, ini melihat bagaimana untuk keekonomian bagi pelaku usaha itu jangan sampai ini ada pembebanan. Jadi, daya saing dan juga keberlanjutan usaha tetap itu menjadi pertimbangan,” kata dia.
Lebih lanjut Yuliot menegaskan, meski bakal terjadi kenaikan tari royalti sektor minerba, pemerintah tidak akan memberikan insentif kepada para pelaku usaha. “Kita ingin optimalisasi penerimaan negara. Kalau ada insentif baru lagi, ya berarti ada beban negara. Jadi, kita akan optimalisasi kira-kira bagaimana penerimaan negara dan juga ekonomis untuk kegiatan produksi. Seharusnya enggak (ganggu iklim investasi),” ucap Yuliot.

