Pemerintah Bidik EBT Sumbang 79% Kelistrikan, Ini Energi yang Bakal Digenjot
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan kapasitas pembangkit listrik pada 2060 mencapai 443 gigawatt (GW), dengan 79% di antaranya berasal dari energi baru terbarukan (EBT).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebutkan, proyeksi tersebut tercantum dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060 yang telah ditetapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada 29 November 2024.
Baca Juga
Bahlil "Pede" Kejar Target Bauran EBT Setelah Peresmian 26 Pembangkit Listrik
“Kebijakan yang diambil dalam pengembangan pembangkit, antara lain pembangkit arus laut dimulai pada 2028-2029, kemudian pengembangan pembangkit nuklir diupayakan percepatan 2029-2032,” ungkap Yuliot dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR, di Jakarta, Kamis (23/1/2025).
Dia mengatakan, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) floating juga akan dimasifkan dengan memanfaatkan area waduk. Selain itu. pengembangan PLTS atap atau rooftop dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) baik offshore maupun onshore.
“Berikutnya, pengoperasian PLTU batu bara existing sampai PPA (power purchase agreement) berakhir, selanjutnya cofiring dengan biomassa yang dilengkapi CCS (carbon capture storage),” beber dia.
Baca Juga
Kadin Indonesia Berharap Rencana EBT Tak Usik Ketersediaan Ketahanan Pangan
Disebutkan Yuliot, bauran EBT akan terus meningkat sebesar 16% pada 2025 dan naik menjadi 74% pada 2060. Sedangkan pada 2044, bauran EBT diharapkan mencapai 52% atau lebih besar dari bauran energi fosil.
“Emisi karbon diproyeksikan terus menurun sampai zero emission pada 2060. Jika dibandingkan baseline akan turun signifikan mencapai 2 miliar ton pada 2060,” ucap Yuliot.

