Elon Musk: AI Sudah Pelajari Hampir Seluruh Data Manusia
JAKARTA, investortrust.id - CEO Tesla, Elon Musk mengatakan, seluruh data milik manusia sudah dipelajari oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Akibatnya, bahan pelatihan AI semakin langka.
“Kita telah menghabiskan akumulasi pengetahuan manusia untuk pelatihan AI,” kata Musk dikutip dari Techcrunch, Senin (13/1/2025).
Pernyataan itu dilontarkan Musk dalam diskusi dengan Bos Stagwell, Mark Penn, di X beberapa waktu lalu. Musk menyinggung pandangan mantan kepala ilmuwan OpenAI, Ilya Sutskever bahwa industri AI telah mencapai puncak data sehingga memaksa perubahan cara pengembangan model AI di masa depan.
Untuk mengatasi masalah itu, Elon Musk menyarankan penggunaan data sintetis, yaitu data yang dihasilkan oleh AI itu sendiri. “Satu-satunya cara untuk melengkapi data dunia nyata adalah dengan data sintetis, di mana AI menciptakan data untuk pelatihan,” ujar bos Starlink tersebut.
Baca Juga
Ketua Dewan Pers Soroti Pentingnya Berpikir Kritis di Era Kecerdasan Buatan
Perusahaan-perusahaan besar seperti Microsoft, Meta, OpenAI, dan Anthropic telah memanfaatkan data sintetis untuk melatih model AI mereka. Gartner memperkirakan 60% data yang digunakan dalam proyek AI dan analitik pada 2024 dihasilkan secara sintetis.
Microsoft, misalnya, menggunakan data sintetis untuk melatih model Phi-4 yang baru dirilis secara open source. Begitu juga dengan model Gemma dari Google, Llama dari Meta, dan Claude 3.5 Sonnet dari Anthropic.
Startup AI, Writer bahkan berhasil mengembangkan model Palmyra X 004 dengan biaya hanya US$ 700.000 menggunakan hampir seluruhnya data sintetis, jauh lebih hemat dibandingkan model OpenAI serupa yang diperkirakan menghabiskan US$ 4,6 juta.
AI di Indonesia
Di Indonesia, perkembangan AI juga mulai mengarah pada penggunaan data sintetis. Beberapa startup lokal dan universitas seperti Gojek, Tokopedia (GoTo), dan Universitas Indonesia (UI) telah memanfaatkan teknologi AI untuk berbagai solusi, mulai dari personalisasi layanan hingga analisis data besar.
Meski sebagian besar masih bergantung pada data dunia nyata, kelangkaan data berkualitas yang mewakili keragaman Indonesia menjadi tantangan besar.
Baca Juga
Berbicara di WEF Davos, Sekjen PBB Serukan Tindakan Nyata Hadapi Masalah Iklim dan Kecerdasan Buatan
Berdasarkan catatan investortrust.id, startup lokal seperti Kata.ai telah mulai mengeksplorasi potensi data sintetis untuk meningkatkan kemampuan chatbot berbasis bahasa Indonesia.
Selain itu, pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga mendorong penelitian tentang AI, termasuk eksplorasi penggunaan data sintetis untuk kebutuhan nasional, seperti pendidikan, kesehatan, dan layanan publik.
Meski memiliki tantangan, langkah menuju penggunaan data sintetis di Indonesia bisa menjadi peluang besar untuk mempercepat inovasi AI yang inklusif dan relevan secara lokal. (C-13)

