Ketua Dewan Pers Soroti Pentingnya Berpikir Kritis di Era Kecerdasan Buatan
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu menggarisbawahi poin-poin penting di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pertama, berpikir kritis dalam menilai tujuan dari sebuah informasi yang dipublikasikan di berbagai platform media.
“Propaganda seringkali memiliki agenda yang jelas yaitu membujuk audiens untuk mengadopsi keyakinan tertentu atau mengambil tindakan tertentu. Orang yang berpikir kritis akan mempertanyakan tujuan dari sebuah informasi, siapa yang akan mendapatkan manfaat dari informasi ini? Menyesatkan atau tidak? Manipulatif atau tidak?” kata Ninik dalam acara seminar nasional bertajuk "Jurnalisme versus AI" di Jakarta, Rabu (11/12/2024).
Baca Juga
Dewan Pers Bakal Terbitkan Pedoman Pemanfaatan AI di Media Massa
Kedua, lanjut Ninik, media sebagai pengendali sosial yang mampu memanipulasi publik.
“Propaganda sering mengandalkan emosi sebagai daya tariknya. Apakah itu emosi mengarah pada ketakutan, patriotisme, kemarahan dan lain-lain dibanding dengan argumentatif atau faktalogi. Orang berpikir kritis dapat mengenali ketika sebuah pesan menggunakan manipulasi emosional untuk mengaburkan nilai-nilai yang sebaliknya, yang sifatnya rasional,” ucap dia.
Ketiga, menurut Ketua Dewan Pers, perlunya pemikiran kritis untuk membedah informasi yang tersebar di sosial media.
“Saya selalu berolok-olok di grup-grup saudara saya, karena (mereka) seringkali mengambil konten-konten di media sosial yang mengarah pada propaganda yang membuat kita takut, nggak dalam (analisanya). Makanya saya bilang ‘Jangan ngajinya di media sosial.’ Nah ini berpikir kritis seperti ini menjadi penting,” tegas Ninik.
Keempat, masyarakat harus berpikir kritis terhadap propaganda yang diulang secara terus-menerus atau firehose of falsehood.
“Propaganda sering mengulangi pesan tentu-tentu berulang-ulang berharap pengulangan akan membuat tampak benar. Orang yang berpikir kritis akan mempertanyakan, apa motif dibalik pengulangan tersebut?” imbuh Ninik.
Baca Juga
Dewan Pers Sebut Kompetensi Wartawan Jadi Tantangan Saat Ini
Kelima, Ninik mengatakan, seluruh insan media harus berkolaborasi dengan multi-stakeholder untuk terus resilien di era teknologi canggih menggunakan AI ini.
“Seorang pemikir kritis akan menentang stereotype ini, karena tidak selalu kita dan mereka, tetapi kadang-kadang kita bisa kolaboratif,” katanya.

