Bahlil Rencanakan Stop Impor Solar jika Program B50 Berjalan
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, berencana menghentikan impor solar jika program B50 sudah berjalan. Rencana ini sejalan dengan misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang ingin mewujudkan kemandirian energi.
Bahlil menegaskan bahwa saat ini pemerintah sedang mendorong penggunaan bahan bakar nabati (BBN). Bahkan, Kementerian ESDM sendiri telah memastikan implementasi biodiesel B40 sudah bisa berjalan pada tahun 2025 mendatang.
“Menyangkut dengan pengembangan biofuel, Pak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami agar menghitung konversi dari sekarang B40 yang ke depan untuk kemudian di 2026 menjadi B50,” ucap Bahlil dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Rabu (13/11/2024).
Baca Juga
B40 sendiri merupakan biodiesel yang mengandung fatty acid methyl ester (FAME) minyak kelapa sawit sebesar 40% dalam komposisi BBM solar. Dengan kata lain, semakin besar kandungan minyak kelapa sawit, maka penggunaan solarnya pun semakin sedikit.
“Kalau kita sudah sampai di B50 maka kita tidak perlu impor solar. Jadi sekarang kalau B40 selama produksi Pertamina nya belum maksimal kita masih impor. Tapi kalau B50, kita tidak lagi melakukan impor solar. 2026 kami diberikan target harus bisa menyusun sampai dengan B50,” beber Bahlil.
Lebih lanjut mantan Menteri Investasi itu mengatakan, pengembangan BBN ini juga termasuk di antaranya adalah bioavtur. Menurut Bahlil, Indonesia harus mengoptimalkan setiap sumber daya yang dimiliki agar tidak dimanfaatkan oleh negara lain.
Baca Juga
Akselerasi Transisi Energi, Pertamina Akan Tambah Kapasitas Pembangkit Panas Bumi
“Pak Presiden Prabowo memerintahkan agar perlahan-lahan kita sudah mulai masuk ke bioavtur. Karena kalau tidak, negara lain yang akan membangun kilang avtur ini. CPO-nya dari kita, minyak jelantahnya dari kita, habis itu hasilnya mereka olah di negara lain, kemudian kita disuruh beli barang dari mereka,” ucap dia.
Maka dari itu, pemerintah merencanakan untuk membuat mandatori dalam pengembangan bioavtur ini. Bahlil menyebut Pertamina bakal memegang peran penting terkait hal ini.

