Pengembangan Jaringan Gas di Indonesia Bisa Bantu Topang Perekonomian Capai 8%
JAKARTA, investortrust.id - Pengembangan jaringan gas atau jargas perlu dilakukan oleh pemerintah sebagai salah satu upaya maupun langkah agar Indonesia tidak ketergantungan terhadap impor. Jika impor ini terus dilakukan, maka akan menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Apabila melihat data, neraca perdagangan Indonesia dari 2014 hingga 2024 mengalami surplus. Kendati jika dirincikan, neraca perdagangan untuk sektor migas mengalami defisit yang disebabkan tidak hanya dari impor minyak mentah, namun juga dari gas minyak cair atau Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Oleh sebab itu, Investortrust menggelar diskusi dengan sejumlah pihak terkait yang bertemakan "Gotong Royong Membangun Jargas: Menguji Efektivitas Skema KPBU" dengan tujuan untuk membantu upaya pemerintah dalam memperluas pengembangan jargas di seluruh Indonesia.
Baca Juga
Reforminer: Idealnya Jargas Dikembangkan Pemerintah dan Dikelola Badan Usaha
"Perkembangan produksi gas bumi di Indonesia itu relatif stuck ya. kemudian kalau melihat target dan realisasi produksi dan salur gas ini ada pertumbuhan ya. Kemudian capaian kinerja salur gas 2024, realisasi masih di bawah outlook," kata CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera Primus Dorimulu saat membuka diskusi, Rabu (29/10/2024).
Jika melihat capaian subholding Gas Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang berperan dalam pembangunan jaringan gas, hingga 2023 lokasi jaringan distribusi gas PGN masih berpusat di Pulau Jawa dan Sumatera, serta sedikit di Sulawesi.
Sementara itu, panjang jaringan pipa distribusi gas PGN sampai 2023 adalah paling panjang dilakukan di Tangerang, yakni 1.090 kilometer. Kemudian yang terpanjang selanjutnya adalah berada di Jakarta dengan panjang 913 kilometer.
Maka dari itu, jargas perlu diperluas guna menekan impor gas LPG yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, berdasarkan data yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), impor LPG sepanjang 2023 telah tembus 6,95 juta ton atau sekitar 79,7% dari total kebutuhan LPG nasional sebesar 8,71 juta ton.
Kalau melihat perkembangan impor gas bumi Indonesia paling tertinggi terjadi pada 2022, yakni sebesar US$ 4,9 miliar, dan pada 2023 sebanyak US$ 3,7 miliar. Sedangkan karakteristrik pelanggan jargas pada Semester I 2024 paling banyak berasal dari rumah tangga.
"Tapi kalau dibantu dengan jargas maka impor akan menurun, ini akan membantu perekonomian kita apalagi Presiden Prabowo Subianti sudah mencanangkan pertumbuhan ekonomi 8%," terang Primus Dorimulu.

