Prabowo Ingin B35 Dinaikkan ke B60, Bahlil Pastikan Pasokan Minyak Sawit Aman
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan pasokan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di dalam negeri aman. Tidak akan ada masalah jika biodiesel dikembangkan ke level lebih tinggi, seperti meningkatkan biodiesel 35% (B35) ke B40, bahkan B60.
“Kalau ditanya kapasitas CPO kita cukup atau tidak, itu cukup. Pasti cukup. Kita kan banyak dong (pasokan minyak sawit), kita kan ekspor,” kata Bahlil di Sekretariat Kementerian ESDM, Senin (21/10/2024).
Baca Juga
Industri Dipersiapkan, Kementerian ESDM Pastikan Mandatori Program B40 Dimulai 1 Januari 2025
Presiden Prabowo Subianto menyatakan ingin mengembangkan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan ramah lingkungan. Karena itu, pemerintah sedang mengembangkan B50 dan B60. Saat ini, biodiesel yang berasal dari campuran minyak sawit dan solar baru sampai level 35% (B35).
Kementerian ESDM memastikan implementasi biodiesel B40 sudah bisa dijalankan pada 2025. B40 merupakan biodiesel yang mengandung fatty acid methyl ester (FAME) minyak sawit sebesar 40% dalam komposisi BBM solar.
Bahlil Lahadalia mengaku, jika pemerintah ingin mengembangkan biodiesel ke level yang lebih tinggi, seperti B50 dan B60, produksi biodiesel membutuhkan pasokan minyak sawit lebih banyak. Padahal, minyak sawit juga masih dibutuhkan untuk sektor pangan.
Meski demikian, menurut Bahlil, pasokan minyak sawit untuk biodiesel di dalam negeri tetap mencukupi.
“Sekarang kan kita B40. Sekarang kita akan dorong ke B50 sampai B60. Kalau ditanya bahwa itu cukup atau tidak, B30, B50, sampai B60 itu kan kita habiskan produksi hampir 14 juta kiloliter. Nah, sementara ekspor kita kan masih banyak,” papar mantan Menteri Investasi tersebut.
Baca Juga
ESDM Tegaskan Pengembangan B40 ke Atas Tak Boleh Ganggu Sektor Pangan
Bahlil menjelaskan, yang perlu diperhatikan dari pengembangan biodiesel ke level lebih tinggi ini adalah teknologinya. Dengan demikian, bahan bakar nabati (BBN) yang disalurkan ke masyarakat bisa tetap terpenuhi dengan baik dan tidak menimbulkan persoalan.
“Tinggal kita lihat adalah teknologinya. Nah, teknologinya ini kan harus by process untuk kita uji coba agar ketika B50 atau B60 diimplementasikan betul-betul sudah lewat uji coba yang baik,” ucap Bahlil.

