Bahlil Klaim Hilirisasi Bakal Tambah 2% Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengklaim proyek hilirisasi akan mampu membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia bertambah 2%.
Sebagaimana diketahui, Presiden Terpilih Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%. Sementara itu, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di angka 5%. Maka dari itu, hilirisasi dipandang sebagai proyek penting untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.
“Ini (hilirisasi) adalah salah satu mesin pertumbuhan ekonomi. Baik dari sektor hulu migas, mineral batu bara, perikanan, perkebunan, kehutanan. Jadi bukan hanya satu sektor. Kalau ini mampu kita eksekusi, minimal pertumbuhan ekonomi kita tambah 2%,” kata Bahlil dalam acara Repnas National Conference, Senin (14/10/2024).
Baca Juga
Jokowi Minta Hilirisasi Terus Dilanjut, Jangan Ada yang Mundur!
Bahlil mengungkapkan, saat dirinya masih menjabat sebagai Menteri Investasi, dia telah membuat peta jalan (road map) hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Dia memperkirakan hilirisasi dapat mendorong investasi hingga US$ 618 miliar dari 28 komoditas pada 2040 mendatang.
“Ini bukan omon-omon. Jadi 28 komoditas kita buat hilirisasi. Nah itu total investasi sekitar US$ 618 miliar. Inilah yang menjadi pikiran Bapak Prabowo. Inilah yang menjadi perintah Bapak Prabowo kepada kami agar ini bisa dieksekusi sebagai mesin pertumbuhan,” ujar Bahlil.
Lebih lanjut, Ketua Umum Partai Golkar itu memaparkan saat ini PDB per kapita Indonesia berada di sekitar US$ 5.300, dengan target bisa di atas US$ 10.000 untuk menjadi negara maju dan menjadi fondasi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga
Indonesia Masih Belum Jadi Penentu Harga Sawit Dunia, Hilirisasi Jadi Solusinya?
"Kalau masih andalkan UMR itu lebih identik pada padat karya, kita harus shifting. Seharusnya kita berpikirnya lebih maju,” ucap dia.
Maka dari itu, menurutnya untuk industri bisa masuk, Indonesia harus memanfaatkan keunggulan yang dimiliki, yakni pada ketersediaan bahan baku/komoditas. Dia pun mencontohkan peningkatan nilai tambah pada nikel, di mana Indonesia sudah menghentikan ekspor bijih nikel sejak 2020.
“Tahun 2017-2018, ekspor nikel kita itu hanya mencapai US$ 3,3 miliar. Pada saat itu kita masih mengirim bahan baku. Waktu itu smelter kita belum sampai 10. Kita menyetop ekspor bijih nikel, sekarang ekspor nikel kita berapa? Hasil realisasi sudah mencapai hampir US$ 34 miliar,” beber Bahlil.

