Indonesia Masih Belum Jadi Penentu Harga Sawit Dunia, Hilirisasi Jadi Solusinya?
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terbesar dunia seharusnya menjadi pihak yang menentukan harga CPO dunia. Saat ini, perdagangan CPO dunia masih mengacu pada Cost, Insurance, and Freight (CIF) Rotterdam dan Malaysia Derivatives Exchange (MDEX).
Menurut mantan Menteri Perindustrian periode 2014-2016 Saleh Husin, Indonesia sebagai produsen CPO terbesar seharusnya menjadi penentu harga CPO dunia. Bukan seperti saat ini yang mana Malaysia lewat DMEX menentukan harga salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia itu.
Sebagai catatan, berdasarkan catatan Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia menjadi produsen CPO terbesar secara global dengan kontribusi sekitar 58% dari total produksi CPO dunia. Tidak hanya soal produksi, Indonesia juga menjadi pemimpin eksportir CPO dunia dengan menyumbang 56% dari total ekspor CPO global.
Baca Juga
Dirut OASA Tegaskan Pentingnya Hilirisasi Sawit agar Indonesia Jadi Negara Maju
"Saya mau memperdalam penelitiannya agar kita betul-betul tahu produk ini, selain kita kuasai produknya, kita juga harus tentukan harganya," katanya dalam acara peluncuran buku karangannya bersama Investortrust berjudul "Hilirisasi Sawit, Cegah Middle Income Trap" di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (9/10/2024)
Melalui buku tersebut, Saleh menyebut dirinya ingin kelapa sawit dan produk-produk turunannya tetap menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia. Karena tidak dapat dipungkiri jika pamor kelapa sawit sedikit meredup lantaran berbagai isu yang membuatnya dianggap sebagai biang kerok kerusakan lingkungan, seperti yang dihembuskan oleh Uni Eropa (UE) melalui European Union Regulation on Deforestation-free Products (EUDR) atau Undang-Undang (UU) Anti Deforestasi.
Hal tersebut menurut Saleh perlu mendapatkan perhatian khusus lantaran kelapa sawit dan produk-produk turunannya, termasuk CPO berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
"Kelapa sawit merupakan salah satu sumber pendapatan ekonomi terbesar saat ini dengan ekspor kira-kira sekitar US$ 30 miliar, dan juga dapat mempekerjakan tenaga kerja yang cukup besar baik langsung maupun tidak langsung sekitar 17 juta tenaga kerja," ujarnya.
Baca Juga
Buku ‘Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income-Trap’ Dirilis, Ini Pentingnya Sawit Bagi Indonesia
Terkait dengan buku karyanya, Saleh mengungkapkan bahwa awalnya dirinya hanya berencana meneliti terkait industri hilir kelapa sawit yang mengolah komoditas tersebut menjadi berbagai macam produk turunan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu akhirnya dia memutuskan untuk ikut mengulas industri hulu kelapa sawit.
"Kami bikin buku tapi nggak di hilir saja, tapi sampai ke hulu sehingga orang tahu tentang sawit secara keseluruhan," tegasnya.
Melalui buku yang ditulisnya, Saleh ingin memperlihatkan betapa pentingnya peran penghiliran atau hilirisasi dan diversifikasi produk turunan kelapa sawit untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Saleh menyatakan dengan melakukan hilirisasi kelapa sawit, secara langsung bisa memberikan banyak manfaat bagi perekonomian, seperti halnya penggunaan bahan bakar B35 yang dapat menghemat devisa negara hingga Rp 161 triliun, serta menciptakan lapangan kerja dari ekosistem hilirisasi sawit hingga 20 juta orang.
Saleh menambahkan masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemangku kebijakan supaya pemanfaatan hilirisasi kelapa sawit lebih optimal. Optimalisasi itu bisa dilakukan dengan cara memperkuat kolaborasi antar kementerian/lembaga, serta pemangku kepentingan terkait lainnya untuk meningkatkan nilai tambah produk turunan kelapa sawit.

