Bahlil Tegaskan Hilirisasi Menjadi Cara Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan hilirisasi sektor ESDM merupakan hal pentung untuk mencapai pertumbuhan ekonomi menjadi 8% sesuai dengan target yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi saya harus jujur mengatakan bahwa tidak ada cara lain yang harus kita lakukan dalam rangka meningkatkan GDP dan pendapatan per kapita kita, terkecuali dengan cara-cara terobosan baru. Dan hilirisasi adalah salah satu instrumen untuk menuju pertumbuhan tersebut,” Bahlil dalam acara Minerba Expo 2024 di Balai kartini, Jakarta, Senin (25/11/2024).
Baca Juga
Wamen Investasi dan Hilirisasi: Target Investasi 5 Tahun Rp 13.528 Triliun
Lebih jauh, dia melanjutnya, seluruh kekayaan alam Indonesia harus sepenuhnya dikuasai negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945.
Meski demikian, Bahlil mengatakan, dalam pemanfaatan sumber daya alam tersebut memang dibutuhkan peran pengusaha. Namun, bukan berarti pengusaha tersebut yang menguasai atau memonopoli sumber daya alam tersebut.
“Ini Pasal 33 seluruh kekayaan darat, laut, maupun udara dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Bukan dikuasai oleh pengusaha. Kita harus memiliki frame berpikir sama. Negara menguasai, baru kemudian diberikan izin kepada pengusaha untuk mengelolanya, dan pengusaha membayar pajak,” tegasnya.
Baca Juga
Wamen ESDM: Kolaborasi Freeport dan Antam Dorong Nilai Tambah Ekonomi Melalui Hilirisasi
Dia memaparkan, sektor mineral dan batu bara (minerba) sendiri sejatinya telah berkontribusi luar biasa untuk negara. Dari sekitar 1,2 -1,4 miliar ton batu bara yang beredar di pasar global, sebanyak 600 juta ton berasal dari Indonesia.
“Kita memproduksi kurang lebih sekitar 760-800 juta ton tahun 2023. Sebanyak 600 juta ton diekspor. Kalau 600 juta ton, berarti 35-40% dari total kebutuhan global yang beredar itu kontribusinya dari Indonesia,” ujar dia.
Sementara itu, untuk komoditas nikel, berdasarkan catatan Badan Geologi Amerika Serikat (AS) pada Maret 2024, total cadangan nikel dunia yang ada di Indonesia sekitar 42%. Oleh karena itu, Bahlil tak heran kalau sektor minerba menjadi penyumbang besar PNBP.
Baca Juga
Hilirisasi Bikin Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Jadi yang Tertinggi di Dunia
“Untuk PNBP dari sektor minerba di tahun 2014 itu hanya Rp 29 triliun. Sekarang sudah mencapai Rp 170 triliun lebih. Dulu ini tidak terlalu dijadikan sebagai sumber pendapatan negara utama. Tapi sekarang, ini 10% atau 11% dari total pendapatan negara, PNBP-nya itu dari sektor minerba,” ucap Bahlil.
Lebih lanjut, mantan Menteri Investasi itu menerangkan, secara akumulasi, PNBP dari Kementerian ESDM kepada pendapatan negara itu telah lebih dari Rp 300 triliun, termasuk dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas).

