Boy Thohir: DNA Adaro Adalah Kesederhanaan dan Kerendahan Hati
JAKARTA, Investortrust.id — Sejak mengambil alih pengelolaan tambang dari perusahaan Australia, 1992, para pendiri Adaro sudah menancapkan pilar budaya perusahaan, yakni kesederhanaan dan kerendahan hati. Meski kinerja perusahaan meningkat, pemilik, manajemen, dan karyawan Adaro tetap sederhana, rendah hati, bekerja keras, dan punya semangat berbagi.
“Kita mampu merayakan ulang tahun di tempat yang mewah. Tapi, itu bukan ‘DNA’ Adaro. ‘DNA’ kita adalah hidup sederhana, rendah hati, kerja keras, dan punya semangat berbagi,” kata CEO PT Adaro Energy Indonesia Tbk Garibaldi (Boy) Thohir pada ulang tahun ke-32 Adaro Group di Kuningan City, Jakarta, Jumat (04/10/2024). Ribuan karyawan dari berbagai perusahaan Adaro Group —di antaranya PT Adaro Energy Indonesia Tbk, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk, dan PT Adaro Andalan Indonesia— memadati Kuningan City Ballroom di Lantai VII.
Baca Juga
Boy Thohir Ungkap 3 Hal yang Bikin Adaro Tumbuh Membesar, Cek
Pada tahun 1992, Boy bersama sejumlah mitranya —Edwin Soeryadjaya, Theodore Permadi (TP) Rachmat, dan Benny Subianto— mengambil alıh Adaro dari perusahaan Australia. Adaro yang semula hanya bergerak di penambangan batubara kini berkembang menjadi perusahaan tambang yang terintegrasi secara vertikal, perusahaan energi, dan energi terbarukan. Tahun 1992 dijadikan tahun awal pendirian Adaro hingga saat ini.
“Kami para pendiri memiliki nilai yang sama dan nilai itulah yang kami tanamkan di Adaro,” ujar Boy yang mengenakan seragam SMA. Kostum di HUT ke-32 Adaro ini tidak sekadar membuat pembedaan dengan perayaan HUT tahun-tahun sebelumnya, melainkan juga mengajak semua insan Adaro untuk selalu memiliki semangat muda. Sekitar 30% karyawan Adaro adalah Gen Z, berusia 26 tahun ke bawah.
Adaro Group menerapkan lima nilai utama yaitu Integrity, Meritocracy, Openness, Respect, Excellence atau disingkat IMORE. Integrity merupakan karakter yang mengandung unsur kejujuran, loyalitas terhadap perusahaan, mengedepankan kepentingan perusahaan di atas kepentingan pribadi.
Kejujuran adalah hal terpenting dalam integrity. Boy meminta pimpinan unit bertindak tegas terhadap karyawan yang tidak jujur. “Tidak ada kompromi terhadap ketidakjujuran,” tegas Boy.
Meritocracy adalah budaya untuk membangun kompetisi yang sehat di perusahaan. Yang terbaik yang akan mendapatkan promosi. Boy mengingatkan setiap pimpinan unit untuk merekrut karyawan baru yang lebih hebat dari dirinya. Hanya dengan begitu, perusahaan akan naik kelas.
Baca Juga
Boy Thohir: ‘Spin Off’ Adaro Andalan Indonesia Bagian dari Tranformasi Bisnis Adaro Group
Opennes adalah nilai untuk membangun keterbukaan di dalam perusahaan. Respect adalah nilai yang harus dijunjung tinggi di Adaro. Di dalamnya terkandung filosofi bahwa walaupun berbeda pendapat namun harus saling menghargai. Sementara Excellence merupakan budaya unggul yang dijalankan di semua level dari tingkat manajemen maupun karyawan lapangan.
Boy mengingatkan karyawan untuk tidak saja melihat ke atas, melainkan juga melihat ke bawah. Melihat ke atas penting untuk terus belajar dan memperbaiki kinerja. Sedang melihat ke bawah juga penting untuk membangkitkan rasa syukur dan terimakasih.
“Ternyata, banyak orang yang lebih susah dari kita. Karena itu, mari kita bersyukur. Ucapan syukur itu kita wujudkan lewat kerja keras, hidup sederhana, rendah hati, dan berbagi dengan mereka yang berkekurangan,” pungkas Boy.
Sebagai ungkapan rasa syukur pula, upaya peringatan hari ulang tahun ke-32 Adaro Group di Kuningan City, diwarnai oleh aksi sosial, dengan menyumbangkan sejumlah bahan kebutuhan pokok pada masyarakat di sekitar wilayah Kuningan, dan sekitar Kuningan City.

