Kementerian BUMN Optimistis RI Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia, Asal...
JAKARTA, investortrust.id - Sekretaris Kementerian BUMN, Rabin Indrajad Hattari, mendorong agar Indonesia dapat mengambil peran sebagai pusat ekonomi syariah dunia. Ia mengatakan sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk dapat mengembangkan ekonomi syariah untuk lebih pesat.
"Anda dapat melihatnya, kita memiliki potensi untuk menjadi pasar terbesar di dunia, dengan apa yang kita miliki," kata Rabin dalam seminar internasional ekonomi dan keuangan syariah yang digelar oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef) di Jakarta, Selasa (3/9/2024).
Ia mengatakan Indonesia memiliki potensi besar terhadap pengelolaan zakat, infak, shadaqah dan wakaf atau yang kerap disebut ziswaf. Hal ini, kata Rabin, memberikan landasan kuat bagi Indonesia untuk mengambil peran sebagai pusat ekonomi syariah dunia.
Kemudian disampaikan Rabin, di tingkat global, aset keuangan islam global pada tahun 2022 lalu diperkirakan mencapai US$ 4,5 miliar. Dan pada tahun 2024 ini diproyeksikan akan mencapai US$ 6,7 miliar. Potensi ini yang menurut Rabin mesti dilihat oleh pemerintah dan pelaku industri syariah di Indonesia.
Baca Juga
Wapres Ma’ruf Amin Berharap Tiga Hal Ini untuk Tingkatkan Ekonomi Syariah di Indonesia
Namun demikian, ia mengungkap mesti ada sejumlah tantangan yang dihadapi, sebelum Indonesia dapat mewujudkan peran sebagai pusat ekonomi syariah dunia. Menurut Rabin, tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia adalah di antaranya rendahnya literasi dan inklusi keuangan syariah, minimnya produk dan layanan syariah yang inovatif, serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di sektor keuangan syariah.
"Inilah kendala yang harus kita atasi bersama," sambung dia.
Cerita soal Pembentukan Bank Syariah Indonesia
Pada kesempatan tersebut, Rabin turut bercerita soal awal pembentukan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk, oleh Kementerian BUMN. Diketahui BSI sendiri dibentuk pada 1 Februari 2021 lalu, melalui merger atau penggabungan antara Bank Syariah Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah.
Rabin menceritakan, Kementerian BUMN sempat menemui kesulitan kala pertama kali mendirikan BSI. Ia menyebut kesulitan yang dihadapi adalah saat Kementerian BUMN mencoba untuk menemukan sekumpulan pakar keuangan syariah yang berbakat. Dan oleh karena itu, ia melanjutkan, pemerintah Indonesia membentuk strategi ekonomi dan keuangan syariah untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Baca Juga
"Strategi tersebut mencakup beberapa pilar utama, termasuk peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah," lanjut dia.
Menurut Rabin, sampai dengan hari ini, Kementerian BUMN melalui BSI berupaya terus mengedukasi masyarakat terkait literasi dan inklusi keuangan syariah. BSI sendiri, kata Rabin, berinovasi dengan terus mengembangkan produk dan layanan syariah yang mudah diakses dengan memanfaatkan teknologi digital.

