Bidik Literasi Ekonomi Syariah 50% Tahun 2025, BI Fokus Ini
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung membeberkan membidik target literasi ekonomi dan keuangan syariah di tahun 2025 mencapai 50%. Ia mengungkap target tersebut menjadi tugas berat, mengingat survei terakhir BI mencatatkan angka literasi keuangan ekonomi syariah Indonesia baru mencapai 28%.
Meski demikian, ia mengaku optimistis target tersebut dapat tercapai. Untuk mencapai target literasi ekonomi syariah di angka 50%, ia mengungkapkan BI akan mengalihkan fokus ke setidaknya enam langkah.
"Fokus pertama BI dan pemerintah adalah dalam pengembangan ekosistem makanan halal. Ia menyebut hal itu terkait akselerisasi sertifikasi rumah potong hewan yang akan terus dilakukan," katanya dalam "Opening Ceremony FESyar KTI Tahun 2024" di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (8/7/2024), yang ditayangkan online.
Menurutnya, rumah potong hewan menjadi sumber utama dalam pengelolaan pangan halal. Apabila daging yang disediakan telah terjamin halal, hal ini dapat mengatasi sebagian besar kehalalan dari sebuah produk makanan.
Terkait sertifikasi halal, ia mengaku BI bersama pemerintah terus melakukan upaya-upaya akselerasi. Ia mengungkap BI telah bekerja sama dengan sejumlah halal center di sejumlah perguruan tinggi.
Ia juga menyorot produk-produk turunan seperti emulsifier yang sering terbuat dari tulang-tulang hewani. Ia mendorong agar pemerintah dapat memastikan kehalalannya. Bahkan, ia mendorong agar pemerintah dapat memproduksi produk-produk turunan tersebut, sehingga kehalalan produk dapat terjamin.
Pengembangan Modest Fashion
Yang kedua adalah pengembangan modest fashion. "Kami terus mendorong para perancang dan pengusaha modest fashion," ungkapnya.
Untuk mengembangkan produk modest fashion, BI akan mengoptimalkan penyelenggaraan Indonesia Internasional Modest Fashion Festival. Agenda tersebut akan menjadi rujukan modest fashion dunia.
Baca Juga
Disebut Tak Sesuai Prinsip Syariah, BEI Ungkap Fakta Short Selling Ini
Fokus ketiga adalah pengembangan ekonomi pesantren. Menurutnya pesantren memiliki endwoment factors yang sangat besar, di antaranya ketersediaan lahan, sumber daya manusia (SDM) berkarakter, dan kekuatan jamaah yang dapat kita optimalkan.
"Untuk itu kami terus melakukan penguatan dan perluasan model bisnis ekosistem pertanian, perikanan, dan peternakan di pesantren," sambungnya.
Baca Juga
Kunjungi Indonesia, Perbankan Malaysia Eksplor Ekosistem Syariah di BSI
Fokus keempat adalah pengembangan keuangan syariah. Dijelaskannya, BI terus mendorong inovasi kebijakan dan instrumen pasar keuangan sebagai alternatif skema pembiayaan serta pendanaan syariah.
"Beberapa inisiatif yang telah kami lakukan bersama OJK antara lain penguatan fungsi perbankan syariah, misalnya untuk mengelola investment account," tuturnya.
Fokus kelima adalah pengembangan digitalisasi ekonomi syariah. Ia menyebut BI terus melakukan upaya mendorong industri halal maupun keuangan syariah. Ia menjelaskan Satu Atap Indonesia dapat digunakan untuk berbagai transaksi keuangan sosial syariah, termasuk zakat dan wakaf.
Fokus terakhir atau keenam yang akan dilakukan oleh BI adalah optimalisasi literasi dan edukasi ekonomi syariah. Ia mengungkap, semakin tinggi literasi, maka semakin besar pula penerimaan dan penggunaan produk halal dan keuangan syariah.
"Ini perlu menjadi perhatian kita bersama, berkaitan dengan target literasi ekonomi syariah sebesar 50% tahun depan 2025 yang dicanangkan oleh Bapak Wapres. Ini tentu tidak dapat kita capai dengan bekerja seperti biasa, sehingga BI dan OJK sedang melihat lebih detail, bagaimana kita bisa mencapai target 50% di tahun depan," tuturnya.

