Banyak Ditemukan Sumber Gas Raksasa, SKK Migas Pede dengan Target Produksi 12 Miliar BSCFD
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia sudah menargetkan agar di tahun 2030 produksi gas nasional mencapai 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD). Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menilai target itu bisa tercapai karena ditemukan sumber-sumber gas raksasa.
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengungkapkan, target 12 BSCFD sebetulnya sempat dipertanyakan, terutama terkait dengan pembeli atau konsumen dari gas tersebut. Namun, dengan adanya kebijakan pemerintah terkait hilirisasi, kebutuhan gas pun menjadi meningkat.
“Banyak yang menanyakan siapa yang membeli? Nah sekarang begitu mulai berbagai kebijakan pemerintah untuk hilirisasi, mulai banyak industri-industri di dalam negeri, kemudian juga kebutuhan listrik juga meningkat sehingga sekarang berkembang,” kata Dwi Soetjipto di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (15/8/2024).
Baca Juga
Menteri ESDM Sebut Pentingnya Rantai Pasok Sebagai Fondasi Industri Migas
Menurut Dwi, dari sisi gas balance, SKK Migas memandang bahwa tidak akan negatif di 2030. Apalagi dengan ditemukannya sumber-sumber gas baru yang berukuran raksasa.
“Kita tahu bahwa Eni sendiri di Indonesia ada 5 proyek sekarang itu pengembangan existing maupun 2-3 proyek pengembangan baru termasuk yang salah satunya Geng North,” papar dia.
Sementara itu, untuk proyek yang lain-lain disampaikan oleh Dwi, dari 2026 akan onstream. Kemudian Geng North diproyeksikan onstream di 2027, dan selanjutnya akan diikuti Andaman oleh Mubadala di 2028, lalu pada akhir 2029 ada Abadi Masela. Ini menunjukkan ada penambahan yang cukup signifikan untuk gas.
Baca Juga
30% Produksi Gas Diekspor, SKK Migas: Serapan Domestik Belum Optimal
Kendati demikian, Dwi tidak memungkiri bahwa masih ada kendala, di mana beberapa wilayah seperti di Jawa bagian Barat mengalami kekurangan (shortage). Dia menerangkan, kalau berbicara per daerah, itu akan sangat tergantung dengan infrastruktur.
“Kita sudah cukup lama memberikan sinyal bahwa Jawa Timur kelebihan gas. Jawa Barat kita tahu sudah cukup lama memang dari sisi kapasitas suplai mengalami shortage. Makanya Jawa Barat itu disuplai dari Sumatera bagian Tengah, Sumatera bagian Selatan untuk mengalir ke Jawa Barat,” ujar Dwi.
Selain itu, juga ada receiving terminal di Utara Jakarta sehingga kelebihan gas di Jawa Timur bisa dialirkan ke Jawa Barat. Saat ini pun sedang dibangun pipa gas Cirebon-Semarang. Dengan adanya pipa ini diharapkan akan mengatasi kelebihan gas di Jawa Timur.

