Asia Tenggara Jadi Pasar Energi Surya Menjanjikan di Dunia, Bagaimana dengan di Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai Asia Tenggara kini telah menjadi pasar energi surya yang menjanjikan di dunia. Hal ini terungkap dari data IRENA (2024), total kapasitas energi surya di Asia Tenggara telah mencapai25,9 GW.
Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IESR Alvin Putra memaparkan, dari angka tersebut, Vietnam menjadi negara dengan kapasitas energi surya terbesar dengan 17 GW disusul Thailand di posisi kedua dengan 3 GW.
“Vietnam itu memiliki total energi surya sebanyak 17 GW. Namun, dua sampai tiga tahun terakhir sebenarnya negara-negara lain di Asia Tenggara juga mulai semakin agresif untuk mengelola energi surya ini,” kata Alvin dalam Media Briefing Indonesia Solar Summit 2024, Selasa (13/8/2024).
Baca Juga
Dia menyebutkan, negara-negara Asia Tenggara yang juga mengalami perkembangan selama medio 2021-2023 adalah Filipina, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
Penambahan kapasitas pembangkit energi surya Filipina bahkan disebut Alvin menjadi yang paling besar selama 2021-2023, yakni 600 MW, melebihi Vietnam dan Thailand yang notabenenya paling maju perkembangan energi suryanya di kawasan Asia Tenggara.
“Salah satu pendorongnya adalah kebijakan ekonomi yang konsisten, serta mereka juga landscape pasar ketenagakelistrikannya itu didominasi swasta. Jadi ini bukan satu-satunya penyebab ya pendorongnya, tapi secara market para investor pasar ini melihat Filipina sebagai pasar yang cukup stabil,” ujarnya.
Baca Juga
IESR Tekankan Pentingnya Transisi Energi Berkeadilan dalam Mewujudkan NZE
Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh Malaysia, yang penambahan kapasitas pembangkit suryanya mencapai 450 MW. Perkembangan di Malaysia ini terjadi karena ada beberapa trigger atau pendorong, yang salah satunya adalah tender skala besar, yang dinamakan large solar scale.
“Large scale solar itu tender-tender skala besar yang diadakan oleh TNB, Tenaga Nasional Berhad, itu semacam mungkin PLN mereka, tapi mereka itu mengadakan tender-tender energi surya skala besar 100 MW ke atas seperti itu, sehingga selama tahun 2021 sampai 2023 itu penambahannya juga cukup signifikan,” beber Alvin.
Baca Juga
Kebijakan Pengembangan dan Pengusahaan Panas Bumi di Sejumlah Negara
Kemudian yang ketiga adalah Singapura dengan penambahan 442 MW. Meski Singapura negara yang relatif kecil, sehingga potensi energi suryanya sebenarnya tidak terlalu besar, namun secara konsisten terus bertambah. Hal ini dipacu dengan adanya Singapore Green Plan 2030.
“Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia ini sebenarnya mungkin 2-3 tahun terakhir sudah menunjukkan perbaikan atau progres yang signifikan. Tahun 2021 sampai 2023 itu penambahannya hampir 400 MW, walaupun yang sepertiganya itu didorong oleh adanya PLTS Terapung Cirata yang 145 MW. Hampir setengahnya itu didorong oleh adanya PLTS skala besar,” jelas dia.

