Hilirisasi Minyak Jelantah Jadi Biofuel Lebih Murah dari Minyak Sawit
JAKARTA, investortrust.id - Traction Energy Asia tengah mendorong agar minyak jelantah (used cooking oil/UCO) dapat dihilirisasi di dalam negeri untuk diolah sebagai opsi feedstock (bahan baku) komplementer dalam pengembangan biofuel di Indonesia.
Direktur Riset Traction Energy Asia, Sudaryadi menyebutkan, pemanfaatan minyak jelantah menjadi biofuel sejatinya lebih murah ketimbang menggunakan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).
“Jelas lebih murah UCO karena UCO itu adalah limbah. Limbah itu tidak ada proses produksi yang di situ ada impact, karena itu menggunakan residu. Dari rantai produksinya jauh lebih pendek. Lain dengan CPO. CPO tentunya ada semacam proses budidaya dulu,” kata Sudaryadi di Pullman Hotel, Jakarta, Senin (5/8/2024).
Selain itu, dari sisi emisinya, minyak jelantah juga lebih rendah emisi ketimbang minyak sawit. Sudaryadi menjelaskan, minyak jelantah tidak memiliki jejak karbon, karena itu merupakan turunan atau dikategorikan sebagai generasi kedua.
Baca Juga
“Bedanya, kalau UCO tidak bisa di-push jumlahnya sesuai permintaan mau diproduksi. Karena UCO itu sangat dipengaruhi oleh volume masyarakat mengonsumsi minyak goreng, lalu kemudian dari perilaku masyarakat memperlakukan minyak jelantah tersebut,” paparnya.
Terkait dengan definisi minyak jelantah itu sendiri, Sudaryadi menerangkan, jika mengacu apa yang diimbau dari BPOM, masyarakat dilarang menggunakan minyak goreng lebih dari dua kali. Sebab, kalau sudah dua kali digunakan, maka sudah dikategorikan sebagai limbah.
“Kemudian kalaupun terjadi praktik pemurnian, itu secara fisik memang bersih, tapi secara struktur itu sudah berubah. Dan itu sebenarnya berbahaya untuk dikonsumsi,” ujar Sudaryadi.
Baca Juga
Bos Garuda Dukung Penggunaan Avtur Pesawat dari Minyak Jelantah
Untuk pemanfaatan minyak jelantah ini, Sudaryadi menerangkan bahwa pengolahannya bisa untuk dijadikan biodiesel, bioavtur, maupun marine fuel oil. Menurutnya, ini merupakan keputusan politis negara yang mengarahkan ingin diolah menjadi apa minyak jelantah tersebut.
“Kalau kita melihat dari sisi demand, sebetulnya minyak jelantah itu memiliki kandungan energi yang mirip dengan solar. Artinya, kalau itu mau diarahkan sebagai substitusi bahan bakar PSO, biodiesel itu bisa. Bisa dipakai oleh marine fuel oil, bisa dipakai untuk SAF atau bioavtur. Itu sebetulnya keputusannya adalah keputusan politis negara,” sebutnya.

