Sinar Mas Nilai Biofuel Bisa Jadi Solusi Tekan Emisi dan Hemat Devisa Negara
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Sinar Mas Agribisnis & Pangan, Jesslyne Widjaja mengatakan, penggunaan biofuel sebagai bahan bakar merupakan salah satu solusi untuk menekan emisi gas rumah kaca (GRK).
Menurutnya, Indonesia telah cukup berhasil dalam menekan emisi dengan mengimplementasi biodiesel 35% atau disebut B35. Dia memaparkan, dari penggunaan 12 juta ton biodiesel, emisi gas rumah kaca yang ditekan sebanyak 30 juta ton.
“Langkah ini pun sekaligus sebagai upaya menghemat devisa sebesar Rp 160 triliun dari pengurangan impor bahan bakar fosil,” kata Jesslyne dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2024 di Jakarta Convention Center, Jumat (7/9/2024).
Baca Juga
Hilirisasi Minyak Jelantah Jadi Biofuel Lebih Murah dari Minyak Sawit
Program biodiesel yang dilakukan secara konsisten oleh Indonesia tersebut, menurut Jesslyne merupakan contoh kemitraan lintas pihak dalam pengurangan emisi yang berpotensi direplikasi ke pengembangan bahan bakar berkelanjutan untuk penerbangan serta pelayaran.
“Saat Indonesia mencoba tingkat pencampuran biodiesel yang lebih tinggi, kami dari sektor industri siap mendukungnya lewat solusi pasokan yang berkelanjutan,” ujar dia.
Ditegaskan oleh Jesslyne, dengan potensi yang ada, sektor industri masih kesulitan mencapai target pengurangan emisi tanpa dukungan industri kelapa sawit. Oleh karenanya, dia meyakini bahwa kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati paling produktif dan efisien.
Kendati demikian, dia sadar bahwa dalam segi produksi, bahan bakar ramah lingkungan ini belum dapat memenuhi kebutuhan pasar. Maka dari itu, melalui peningkatan produktivitas dan pemberdayaan petani kecil, pihaknya yakin dapat meningkatkan produktivitas panen sekaligus mendorong kesejahteraan petani.
Baca Juga
Menko Airlangga: Biofuel di Indonesia Terus Dikembangkan, Tak Hanya Berbasis CPO
Sebelum ini, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) juga menyebutkan bahwa untuk mengembangkan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan ramah lingkungan memiliki sejumlah tantangan.
Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menyebut Indonesia masih memiliki kendala berupa ketersediaan Crude Palm Oil (CPO) di dalam negeri. Untuk itu, maka produktivitas CPO harus ditingkatkan, yang salah satunya adalah dengan program peremajaan sawit rakyat (PSR).
“Jadi sebenernya saya sampaikan yang utama adalah meningkatkan produktivitas, utamanya dengan PSR. Kalau kita kejar target 5 ton per hektare per tahun dengan luasan 16,3 juta hektare, kita sudah mendapatkan produksi 81,5 juta ton,” ungkap Eddy.

