Jargas Diharapkan Kurangi Impor LPG hingga 83,5 Juta Kg per Tahun
BANDUNG, investortrust.id - Pemerintah sedang mendorong program jaringan gas untuk rumah tangga (jargas) sebagai salah satu upaya mengurangi impor liquefied petroleum gas (LPG).
Senior Expert Sales Regional 2 Jawa Bagian Barat Pertamina Gas Negara, Yudi Arianto menyebutkan, jargas merupakan salah satu cita-cita pemerintah, yang sudah tertuang dalam nawa cita untuk menciptakan kedaulatan energi, yang dalam hal ini mengurangi impor energi.
Maka dari itu, jargas juga sudah masuk ke dalam proyek strategis nasional (PSN), melalui Lampiran Perpres No. 58 tahun 2017. Dengan adanya jargas ini diharapkan bisa mengurangi impor LPG hingga sebanyak 83,5 juta kg per tahun.
“Manfaatnya apa? Kenapa sih pemerintah minta jargas? Tentunya menurunkan biaya subsidi dan impor. Jadi Pertamina maupun seluruh badan usaha itu diminta bagaimana bisa mengurangi subsidi,” beber Yudi di Bandung, Jawa Barat, Senin (23/9/2024).
Baca Juga
PGN (PGAS) Gandeng ITDC, Kembangkan Jargas di Industri Pariwisata
Yudi menyebutkan, saat ini terdapat 817.000 sambungan rumah tangga (SR) jargas yang merupakan pelanggan aktif PGN. Diharapkan, melalui adanya konversi LPG ke jargas sesuai pelanggan aktif tersebut dapat memperbaiki current account deficit pemerintah.
Selain itu, berdasarkan nilai subsidi LPG 3 kg sebesar Rp 10.667/kg, melalui konversi LPG 3 kg ke jargas sesuai pelanggan aktif, diperoleh penghematan biaya subsidi pemerintah sebesar Rp 39,5 Miliar per bulan atau Rp 474 miliar per tahun.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, pemerintah sebetulnya menargetkan pembangunan jargas mencapai 4 juta SR. Namun, target tersebut diturunkan menjadi 2,5 juta SR hingga akhir 2024.
“Di Jawa Bagian Barat belum semuanya menggunakan jargas. Tapi ini masih tergantung dengan bagaimana kemampuan kami untuk bisa membangun infrastruktur besarnya, yaitu pipa. Karena kan itu (disalurkan) melalui pipa, dengan volume kurang lebih 10 BBTUD,” ungkap Yudi.
Tidak hanya itu, dengan jargas ini juga diharapkan bisa mendukung pertumbuhan ekonomi pusat dan daerah karena adanya daya saing dan daya beli masyarakat. Begitu juga dengan penyerapan tenaga kerja diharapkan meningkat.
Baca Juga
Impor LPG Lebih dari 6 Juta Ton per Tahun, Pemerintah Kaji Beri Subsidi di Hulu untuk Jargas
“Penyerapan tenaga kerja pada saat pembangunan, di situ terlibat banyak, ada pabrik pipa, ada kemudian tukang gali gitu ya. Ada tukang nyambung pipa, macem-macem. Di situ akan ada penyerapan tenaga kerja yang cukup masif, 83.000,” jelas Yudi.
Sebelum ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebutkan, untuk konsumsi LPG saat ini kurang lebih sekitar 7 juta ton, sedangkan industri dalam negeri hanya mampu menghasilkan 1,9 juta ton. Dengan kata lain, kekurangannya itu ditutup melalui impor LPG.
Maka dari itu, jargas akan dikebut pembangunannya sebagai bentuk dari pelayanan pemerintah. Bahlil menyampaikan, saat ini sedang membangun pipa gas dari Aceh sampai Pulau Jawa.
“Ini sebagai bagian daripada instrumen untuk memediasi ketika gas kita di Jawa lebih banyak, bisa kita kirim ke Aceh atau ke Sumatera. Atau gas kita di Sumatera lebih banyak bisa kita kirim ke Pulau Jawa. Ini akan menjadi salah satu instrumen penting,” ungkap Bahlil.

