Air Products Hengkang, Nasib Proyek Hilirisasi Batu Bara Masih Belum Jelas
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kelanjutan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) atau gasifikasi batu bara masih belum ada kejelasan hingga saat ini.
Selain persoalan keekonomian, proyek hilirisasi batu bara juga masih mencari mitra pengganti Air Products & Chemical Inc. (Air Products) Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu memutuskan untuk hengkang dari proyek gasifikasi baru bara yang dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) pada tahun lalu.
Staf Ahli Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan pemerintah sedang menjajaki kerja sama proyek gasifikasi batu bara dengan perusahaan asal China. Sayangnya, dia enggan menyebutkan perusahaan yang dimaksud.
"Sedang dijajaki dengan China tapi lupa namanya ya," katanya ketika ditemui di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat (20/6/2024).
Baca Juga
Pemerintah Pastikan Izin Tambang Batu Bara NU Keluar Tahun Ini
Sebelumnya diketahui Bukit Asam sedang menjalin komunikasi intensif dengan East China Engineering Science and Technology Co.LTD untuk melanjutkan proyek gasifikasi batu bara. Perusahaan tambang batu bara pelat merah itu juga sudah mengalokasikan cadangan batu bara khusus untuk menghasilkan DME sebagai subtitusi gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG).
Selain PTBA, perusahaan tambang batu bara lainnya yang akan menjalankan proyek gasifikasi batu bara adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Namun, tidak menutup kemungkinan rencana proyek hilirisasi batu bara kedua perusahaan berubah, bukan lagi proyek gasifikasi batu bara.
“Belum ada usulan perubahan, kalau DME mungkin ada perubahan tapi belum masuk pemerintah,” ujar Lana.
Selain Bukit Asam dan Adaro, Kementerian ESDM juga telah merestui proyek hilirisasi batu bara dari empat perusahaan lainnya, antara lain PT Multi Harapan Utama (MHU), PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Arutmin Indonesia, dan PT Kideco Jaya Agung.
Baca Juga
Kinerja Ekspor Komoditas Andalan Indonesia: Batu Bara dan CPO Lesu, Besi dan Baja Naik
Perinciannya, MHU mengajukan proyek hilirisasi batu bara berupa semikokas, KPC dan Arutmin mengajukan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol, dan Kideco mengajukan proyek gasifikasi batu bara menjadi amonia dan urea (underground coal gasification).
Namun, Lana menilai proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol kurang memiliki nilai ekonomi. Sehingga, tidak menutup kemungkinan akan digantikan dengan proyek hilirisasi batu bara lainnya.
“Misalnya dari hilirisasi gasifikasi untuk metanol akan berubah menjadi amonia," ujarnya dalam acara Investortrust Power Talk bertajuk “Masa Depan Industri Batu Bara di Tengah Tren Transisi Energi" pada Kamis (13/6/2024) di Jakarta Selatan.
Baca Juga
Sumber Daya Batu Bara Indonesia 97,29 Miliar Ton, Apa Yang Bakal Dilakukan Pemerintah?
Selain perusahaan yang disebutkan di atas, Lana mengungkapkan PT Kendilo Coal Indonesia dan PT Berau Coal Energy juga akan menjalankan proyek hilirisasi batu bara. Namun, untuk Kendilo masih belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.
“Sebenarnya ada Kendilo (PT Kendilo Coal Indonesia), tapi kan masih ada masalah, masih ada kasus," ungkapnya.
Sebagai catatan proyek hilirisasi batu bara merupakan salah satu syarat bagi perusahaan tambang batu bara mendapatkan perpanjangan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

