China Siap Investasi Bangun Rusun di Indonesia, Bisa untuk MBR hingga Kelas Atas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia menggandeng China untuk membangun rumah susun (rusun) di Indonesia.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) menyatakan, rusun yang akan dibangun nantinya tidak hanya menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), tetapi juga dapat diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah dan atas.
"Kita lihat nanti bentuknya seperti apa ya, bisa menengah, bisa MBR, bisa mix ya, dan berbagai hal," kata Ara kepada awak media di Kediaman Duta Besar (Dubes) China, Setiabudi, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga
Pemerintah 'Groundbreaking' Rusun Subsidi Manggarai 3.784 Unit, Rampung 2028
Meski demikian, konsep pembangunan rusun tersebut masih dalam pembahasan. Pemerintah Indonesia dan China akan membentuk tim khusus untuk membahas sejumlah hal sebelum proyek tersebut direalisasikan.
Ara menuturkan, tim dari Kementerian PKP terdiri dari Direktur Jenderal (Dirjen) Tata Kelola dan Pengendalian Risiko (TKPR) Roberia, Dirjen Perumahan Perkotaan Sri Haryati, serta Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho.
Tim tersebut akan bekerja sama dengan tim dari China untuk membahas regulasi dan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan rusun. "Kami sudah membentuk tim bersama dari kementerian kami, dipimpin oleh Dirjen Roberia, Dirjen Sri, dan Pak Heru dari BP Tapera," ujar Ara.
"Kemudian akan bekerja sama dengan tim dari Tiongkok untuk membahas, satu soal regulasi yang bisa saling menguntungkan, yang kedua adalah soal lahan akan segera disurvei beberapa lahan-lahan," sambungnya.
Selain pembangunan rusun, Indonesia dan China juga akan membahas pertukaran teknologi di bidang perumahan.
Ara menyebut, teknologi yang akan digunakan dalam pembangunan rusun masih perlu dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi Indonesia. "Kebutuhan, regulasi, disesuaikan. Jadi dipelajari dulu, baru dilihat teknologi yang cocok," katanya.
Menurut politisi Gerindra itu, aspek keamanan juga menjadi pertimbangan dalam menentukan teknologi yang akan digunakan, termasuk kondisi tanah dan lingkungan serta kesesuaiannya dengan regulasi Indonesia.
"Yang aman, ya cocok dengan kondisi Indonesia, aman itu segala-galanya ya secara tanah, lingkungan, dan sebagainya. Kemudian juga dari segi regulasinya tentu kita akan melihat itu," jelas Ara.
Kerja sama Indonesia dengan Negeri Tirai Bambu di sektor perumahan sebelumnya juga telah membahas penyediaan hunian bagi MBR dan masyarakat berpenghasilan menengah, termasuk pertukaran pengalaman, teknologi konstruksi, pembiayaan, dan investasi.
Dubes China untuk Indonesia, Wang Lutong menyampaikan, perwakilan dari Kementerian Perumahan China juga akan terlibat dalam tim khusus tersebut.
Menurut Wang, pertemuan lanjutan antara kedua tim akan dilakukan dalam dua minggu ke depan untuk membahas perkembangan kerja sama, termasuk teknologi dan regulasi perumahan.
Baca Juga
Rusun Qatar Belum Dibangun, PKP Ungkap Ada Aspek Hukum Aset KAI
"Menteri Perumahan Tiongkok dan saya, kami menempatkan orang-orang yang berhubungan dari dua tim kami, dan kami akan bertemu lagi dalam dua minggu yang akan datang," tandas Wang Lutong.
Wang Lutong juga berkomitmen untuk terus mengawal kerja sama antarnegara Asia ini demi mewujudkan hunian layak bagi masyarakat di Tanah Air. "Untuk membicarakan proses, untuk mengetahui perkembangan pekerjaan, dan saya pikir kami juga akan berkomunikasi soal teknologi perumahan dan aturannya," tuturnya.
