Bandingkan Listrik RI dengan Norwegia hingga Pakistan, Wamen ESDM Ungkap Fakta Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa negara-negara yang memiliki porsi besar energi baru terbarukan (EBT) cenderung mampu menyediakan listrik dengan harga lebih rendah. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Indonesia dalam melihat perkembangan pemanfaatan EBT di tingkat global.
Yuliot mengatakan pemerintah terus membandingkan perkembangan pemanfaatan EBT di berbagai negara, termasuk dampaknya terhadap harga listrik. Menurut dia, sumber energi pembangkit listrik di setiap negara berbeda-beda sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Baca Juga
Bauran EBT Baru 17,3%, ESDM Ungkap Tantangan Kejar Target 30% pada 2034
“Di Amerika Utara itu justru sumber utama untuk ketersediaan energi listriknya adalah dari PLTA, hydropower. Ini di Amerika Selatan termasuk di Brasil itu justru lebih dominan energi yang dihasilkan itu adalah dari PLTA,” ujar Yuliot dalam acara IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah negara Afrika dan Norwegia. Bahkan, menurut Yuliot, sekitar 90% sumber listrik Norwegia berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sementara Prancis mengandalkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), dengan kontribusinya mencapai sekitar 69% dari total ketersediaan listrik negara tersebut.
Di sisi lain, sejumlah negara mengandalkan sumber energi fosil. Rusia, misalnya, memanfaatkan gas secara dominan karena memiliki potensi gas yang besar. Negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara juga lebih banyak menggunakan gas sebagai sumber energi listrik. Sementara Indonesia, Australia, China, dan India masih memiliki porsi penggunaan batu bara yang relatif besar.
“Yang kita lihat kondisinya, ternyata yang memanfaatkan energi baru terbarukan dengan kapasitas yang cukup besar harga energinya itu justru sangat rendah. Sementara negara-negara yang lebih dominan menggunakan bahan bakar minyak ini atau bahan bakar yang tidak terbarukan, itu justru harga energinya relatif lebih besar,” jelasnya.
Yuliot mencontohkan Pakistan sebagai salah satu gambaran ekstrem. Negara tersebut memiliki kapasitas pembangkit listrik terpasang sekitar 50 gigawatt (GW), dengan sekitar 17 GW berasal dari PLTN dan lebih dari 17 GW berasal dari PLTA. Dengan komposisi tersebut, sumber listrik rendah karbon memiliki porsi yang cukup dominan.
Menurut Yuliot, kondisi tersebut turut membuat harga listrik di Pakistan relatif rendah, yakni sekitar US$ 6 sen per kilowatt hour (kWh). Harga listrik yang murah kemudian memberikan ruang bagi sektor usaha di negara tersebut untuk berkembang.
“Dengan murahnya harga listrik di Pakistan, industri-industri manufaktur di Pakistan itu justru dikerjakan oleh masyarakat, skalanya adalah usaha mikro kecil,” kata Yuliot.
Baca Juga
ESDM Ungkap Sungai Surut Jadi Kendala Distribusi Energi Kalimantan
Pemerintah, lanjut Yuliot, perlu melihat pengalaman negara lain tersebut dalam menyusun strategi pengembangan sistem kelistrikan nasional. Pemanfaatan sumber energi yang tersedia, termasuk EBT, tidak hanya berkaitan dengan ketahanan dan transisi energi, tetapi juga berpotensi menentukan tingkat harga listrik dan daya saing industri nasional.
Untuk itu, perkembangan energi global menjadi salah satu referensi bagi Indonesia untuk mencari komposisi energi yang mampu menghasilkan listrik kompetitif. Dengan harga listrik yang lebih terjangkau, Indonesia diharapkan dapat memperkuat daya saing industri sekaligus mendorong pertumbuhan sektor manufaktur, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah.
