Bauran EBT Baru 17,3%, ESDM Ungkap Tantangan Kejar Target 30% pada 2034
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah terus mendorong peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di tengah masih dominannya batu bara dan minyak bumi dalam bauran energi nasional. Hingga semester I 2026, bauran EBT tercatat baru mencapai 17,3%.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi mengatakan capaian tersebut mengalami penurunan dibandingkan posisi pada triwulan I 2026 yang sempat mencapai 18,3%.
Baca Juga
Bauran EBT Sulawesi Utara Capai 32%, Panas Bumi Jadi Andalan
“Kami dapat laporkan tentang capaian energi baru terbarukan yang saat ini ada, itu kalau kita melihat dari capaian energi mix nasional itu baru mencapai 17,3% pada semester ini. Jadi kami update kemarin di triwulan satu sempat mencapai 18,3%,” kata Eniya dalam acara The 12th Indonesia EBTKE Conex 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Menurut Eniya, pemerintah memiliki target bauran EBT sebesar 17%-21% sesuai rancangan strategis nasional. Pemerintah berharap capaian tersebut dapat didorong hingga batas atas 21%, sebelum meningkat secara signifikan dalam jangka panjang.
Dari sisi kapasitas terpasang, Eniya menyebut terdapat tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kapasitas EBT naik dari 12,04 gigawatt (GW) pada 2021 menjadi 13,02 GW pada 2022, 13,73 GW pada 2023, 14,81 GW pada 2024, 16,15 GW pada 2025, hingga mencapai 16,32 GW pada pertengahan 2026.
Meski terus bertambah, Eniya menilai pertumbuhan kapasitas tersebut masih relatif landai. Kondisi ini menunjukkan investasi EBT memang meningkat, tetapi perlu didorong lebih agresif agar target dalam rencana strategis (renstra), Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dapat tercapai.
“Capaian hingga 2034 itu kita targetkan 30% bauran energi mix nasional untuk EBT. Jadi itu menjadi target kita semua,” ujar Eniya.
Adapun bauran EBT sebesar 17,3% tersebut berasal dari sektor listrik dan nonlistrik. Pada sektor pembangkitan, bioenergi memiliki porsi 4,19%, disusul pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 2,69%, panas bumi 1,84%, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 0,51%, dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 0,06%.
Baca Juga
IndoEBTKE ConEx 2026 Kembali Digelar, Proyek EBTKE Didorong Masuk Tahap Eksekusi
Sementara dari sektor nonlistrik, fatty acid methyl ester (FAME) atau biodiesel menjadi kontributor terbesar dengan porsi 5,01%, sedangkan biomassa mencapai 2,82%. Dengan demikian, bioenergi menjadi sumber EBT dengan kontribusi terbesar dalam bauran energi nasional saat ini.
Eniya menyoroti masih kecilnya kontribusi PLTS meski Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar. Untuk itu, pemerintah mulai mempercepat berbagai program sekaligus melakukan penyederhanaan regulasi untuk menciptakan ekosistem investasi EBT yang lebih menarik.
“Kalau kita lihat PLTS masih sangat kecil sehingga dalam tahun ini berbagai program kita luncurkan, berbagai regulasi kita singkatkan untuk bagaimana kemudahan investasi ekosistemnya itu bisa terfasilitasi dengan baik,” pungkas Eniya.
