ESDM Ungkap Sungai Surut Jadi Kendala Distribusi Energi Kalimantan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Distribusi energi di Kalimantan kembali menghadapi kendala akibat kondisi sungai yang surut. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan gangguan tersebut bukan disebabkan pembatasan produksi, melainkan rendahnya debit air yang membuat kapal tongkang kesulitan melintas.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menepis informasi yang menyebut banyaknya tongkang yang mengambang di Sungai Kapuas terjadi karena adanya pembatasan produksi. Menurut dia, persoalan tersebut berkaitan dengan kondisi perairan yang tidak memungkinkan kapal pengangkut bergerak.
“Enggak. Itu ya bukan karena dibatasi produksinya, tapi karena air untuk ngalirin kapal tongkangnya enggak ada air,” kata Yuliot saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Baca Juga
IndoEBTKE ConEx 2026 Satukan 9 Organisasi, Dorong Eksekusi Proyek Energi Bersih
Yuliot mengatakan kondisi serupa juga ditemuinya saat melakukan pengecekan di Kalimantan Timur. Penyusutan debit sungai membuat tongkang yang selama ini menjadi salah satu moda utama pengangkutan komoditas dan energi tidak dapat beroperasi secara normal.
“Enggak, enggak. Itu saya cek kemarin di Kalimantan Timur. Ya justru, ya karena sungainya mengering, tongkangnya enggak bisa jalan,” terang dia.
Gangguan distribusi BBM akibat kondisi sungai sebelumnya juga diakui Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR pada 26 Agustus 2026. Menurut dia, distribusi BBM di Kalimantan banyak mengandalkan jalur sungai sehingga kondisi surut langsung memengaruhi kelancaran pengiriman.
“Untuk proses distribusi BBM ini dilakukan melalui angkutan-angkutan sungai, dan pada saat ini sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM tersebut,” jelas Laode.
Untuk menjaga pasokan tetap berjalan, Kementerian ESDM melakukan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya mengalihkan sebagian distribusi BBM menggunakan jalur darat. Pemerintah memperbanyak armada truk untuk mengurangi antrean dan menutup kekurangan pengiriman melalui sungai.
Baca Juga
Kendati demikian, kapasitas angkutan darat tidak dapat sepenuhnya menggantikan moda sungai. Laode mengatakan volume BBM yang dapat diangkut truk jauh lebih kecil dibandingkan kapal sungai, sehingga jumlah pengiriman perlu ditambah untuk mengantisipasi keterlambatan akibat kondisi cuaca dan surutnya sungai.
“Memang tidak bisa volumenya sebesar angkutan sungai, tapi ditambah volumenya agar bisa menutupi tantangan-tantangan antrean yang terjadi dikarenakan oleh cuaca,” kata Laode.
