Kadin Ungkap 3 Mesin Baru Ekonomi Digital Indonesia: Data Center, AI dan Kripto
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pengembangan ekonomi digital nasional perlu diarahkan pada tiga sektor utama yang berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru, yakni data center, artificial intelligence (AI), serta aset digital atau kripto.
Kepala Badan Ekosistem Digital Kadin Firlie Ganinduto mengatakan, tantangan Indonesia saat ini bukan lagi membuktikan bahwa ekonomi digital merupakan masa depan. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana ekonomi digital dapat menciptakan produktivitas, investasi, lapangan kerja, dan nilai tambah di dalam negeri.
"Ekonomi digital adalah masa depan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjadikan mesin pertumbuhan baru yang menciptakan produktivitas, investasi, lapangan kerja, dan nilai tambah di Indonesia," ujarnya dalam Indonesia Technology and Innovation (INTI) 2026 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurut Firlie, tiga sektor tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih besar seiring pemerintah yang terus memperkuat teknologi dan infrastruktur strategis sebagai penopang pertumbuhan ekonomi digital.
Baca Juga
Kadin Sampaikan 4 Sikap soal Kebijakan Hilirisasi Energi dan Minerba
Sektor lainnya yang disoroti adalah aset digital atau kripto. Kadin menyebut nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp482 triliun berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, ia menilai perkembangan aset digital tidak seharusnya hanya dilihat dari aktivitas perdagangan kripto.
Teknologi blockchain dan tokenisasi, menurut Kadin, perlu mulai dieksplorasi untuk menciptakan penggunaan yang produktif dengan tetap memperhatikan tata kelola dan regulasi. Salah satu potensinya adalah membuka akses permodalan yang lebih inklusif bagi sektor riil, termasuk petani, peternak, UMKM, dan pelaku usaha kecil.
"Kita bayangkan kalau model seperti ini dapat diuji untuk membantu peternak, pelaku pertanian memperoleh akses terhadap modal secara lebih transparan dan efisien," terang Firlie.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Indonesia Technology & Innovation (Inti) Hendri Bunardy penyelenggaraan Inti 2026 bukan hanya sekadar pemeran teknologi, melainkan menjadi ruang perteman dan kolaborasi antara regulator, pemerintah, industri, inovator, investor, serta para pelaku teknologi.
Ia menjelaskan, perkembangan artificial intelligence atau AI dalam beberapa tahun terakhir, ditambah dengan percepatan transformasi digital, telah membawa perubahan yang sangat besar. Dalam kondisi ini, ia menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi.
"Kita harus mampu membangun, mengembangkan, dan menciptakan nilai melalui teknologi yang kita kuasai. Dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, penetrasi internet yang terus berkembang, serta pertumbuhan ekonomi digital yang semakin pesat, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu kekuatan digital utama di kawasan Asia," terangnya.
Di tahun 2026 ini, INTI mempertemukan 952 exhibitor dan peserta dari delapan negara. Lebih dari 50 persen exhibitor yang hadir merupakan perusahaan dengan kandungan lokal, bersertifikasi TKDN, serta berasal dari produsen dalam negeri.

