Bahlil Siapkan Mandatori E10 pada 2027, Indonesia Bidik Campuran Etanol 20% untuk Tekan Impor BBM
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah mulai mematangkan roadmap penerapan bensin campuran etanol (bioetanol) sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, pemerintah menargetkan implementasi E10 pada 2027, sebelum secara bertahap menuju E20 pada 2028-2029.
Bahlil mengatakan, pembahasan mengenai mandatori bioetanol turut menjadi salah satu agenda yang disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat yang digelar usai sidang kabinet Senin (20/7/2027).
“Tadi juga dalam rapat dengan Bapak Presiden, memang proposal untuk etanol mandatory ini sudah kita lakukan sejak 2025 dan kajian kita sudah hampir selesai. E20 itu dalam perencanaan yang kita akan tetapkan nanti sampai dengan 2028-2029," kata Bahlil kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, penerapan campuran etanol ke dalam bensin akan memberikan manfaat besar bagi Indonesia, terutama dalam menekan impor BBM. Namun pemerintah tidak ingin kebijakan tersebut justru meningkatkan impor etanol dari luar negeri.
"Kenapa? Karena begitu etanol kita terapkan mandatory, maka kita bisa melakukan efisiensi atau penghematan terhadap impor BBM untuk bensin. Tetapi kita tidak pengen begitu kita terapkan E20 tapi etanolnya kita impor. Maka sekarang kita mempersiapkan industrinya dulu," ujar Bahlil.
Bahlil menjelaskan, pemerintah saat ini tengah membangun fondasi industri bioetanol nasional dengan memanfaatkan berbagai komoditas pertanian sebagai bahan baku, seperti tebu, singkong, jagung, serta komoditas lainnya.
Baca Juga
Rapat dengan Prabowo, Bahlil Usahakan Pertamax Cs Turun Harga di Agustus 2026
"Nah industrinya di mana? Yaitu bahan bakunya adalah singkong, tebu, kemudian jagung dan beberapa komoditas lain. Nah satu sampai dua tahun ini kita melakukan persiapan, setelah itu kita mandatory full E20," sebut mantan Menteri Investasi tersebut.
Meski target akhirnya adalah E20, pemerintah memastikan implementasi akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal dimulai dengan penerapan E10 sebelum kadar campuran etanol ditingkatkan. Saat ditanya mengenai waktu implementasi E10, Bahlil menyebut pemerintah mengincar pelaksanaannya mulai 2027.
"E10 mungkin 2027 dan langsung ke E20 ya. Jadi goal-nya itu mungkin setelah perencanaannya selesai. Jadi kita bertahap dulu, kita melakukan copy paste dari strategi yang dilakukan oleh B10, B20, B30 sampai sekarang B50," ucap dia.
Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, pemerintah juga tengah mendesain pengembangan kawasan perkebunan tebu yang terintegrasi dengan industri hilirisasi. Model bisnis tersebut mengacu pada Brasil yang mampu mengalihkan produksi antara gula dan etanol sesuai perkembangan harga pasar.
"Kita lagi mendesain beberapa perkebunan tebu yang berorientasi pada industri hilirisasi. Contoh di Brasil, semua mekanisasi dan industrinya bisa dua model. Begitu harga etanol naik, dia switch ke etanol. Tapi begitu harga gulanya naik, dia switch ke gula. Dua model ini akan kita lakukan dan sekarang sedang dilakukan pematangan terhadap beberapa industri dan perusahaan yang akan mengembangkannya," jelas Bahlil.
