Harga Emas Turun, Konflik AS-Iran dan Sinyal The Fed Jadi Tekanan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas dunia turun pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu lonjakan harga minyak, memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi, dan mendorong ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut menekan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas spot turun 1,7% menjadi US$ 4.019,79 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus melemah 1,4% menjadi US$ 4.038,90 per ons. Pelemahan ini terjadi setelah harga emas sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan pada pekan lalu.
"Pasar sedang memperhatikan berita-berita terkini dari Timur Tengah, dengan sedikit peningkatan ketegangan selama akhir pekan dan masih menyesuaikan diri dengan kecenderungan The Fed yang lebih agresif," kata Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals Peter Grant dilansir CNBC.
Baca Juga
Saham Merdeka Gold Resources (EMAS) Resmi Melantai di Bursa Hong Kong, Harga Penawaran Segini
Ketegangan geopolitik meningkat setelah Iran pada Minggu (28/6/2026) meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain. Serangan itu terjadi tidak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melenyapkan kepemimpinan Iran apabila negara tersebut tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian perdamaian yang sedang diupayakan.
Serangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent di pasar global. Kenaikan harga energi kemudian memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali meningkat sehingga memperkuat peluang kenaikan suku bunga.
Inflasi dan Dolar Menekan Emas
Meski selama ini emas dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven, kenaikan harga minyak akibat konflik justru meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut membuat investor memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat, sehingga mengurangi daya tarik investasi pada emas yang tidak memberikan bunga.
Federal Reserve sebelumnya mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan ini. Namun, para pembuat kebijakan memperkirakan suku bunga masih berpotensi dinaikkan pada akhir tahun seiring inflasi yang tetap berada di atas target 2%.
Di sisi lain, dolar Amerika Serikat bergerak menuju kenaikan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun. Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar sehingga permintaan terhadap logam mulia tersebut ikut melemah.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Data tenaga kerja dari ADP dijadwalkan terbit pada Rabu (1/7/2026), sedangkan data penggajian nonpertanian atau non-farm payrolls akan diumumkan pada Kamis (2/7/2026).
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Stagnan di Rp 2,655 Juta, 'Buyback' Turun
"Harga emas bisa mencapai titik terendah baru jika data ketenagakerjaan masih terlihat cukup kuat, yang mendukung sikap The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama," ujar Grant.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 60% bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada September.
Sementara itu, pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 1,21% menjadi US$ 58,4467 per ons. Harga platinum melemah 1,88% menjadi US$ 1.584,00 per ons, sedangkan paladium turun tipis 0,07% menjadi US$ 1.208,28 per ons.
