PHE Perkuat Produksi Migas Nasional di Tengah Tantangan Natural Decline
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, memasuki usia ke-19 dengan memperkuat posisinya sebagai tulang punggung produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Di tengah tantangan penurunan alamiah produksi lapangan migas atau natural decline, perusahaan berhasil menjaga pertumbuhan produksi melalui pengembangan lapangan, eksplorasi berkelanjutan, serta penerapan teknologi untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.
Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Energi Hermansyah Y Nasroen mengatakan perjalanan PHE selama hampir dua dekade ditandai dengan transformasi menjadi perusahaan hulu migas yang tangguh, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global.
Baca Juga
PHE Amankan Pasokan Gas hingga 2030, Produksi Migas dan Industri Diuntungkan
"Selama 19 tahun, PHE terus memperkuat perannya sebagai tulang punggung produksi migas nasional. Di tengah tantangan natural decline yang semakin tinggi, kami mampu menjaga pertumbuhan produksi melalui pengembangan lapangan secara agresif, penerapan teknologi, eksplorasi yang berkelanjutan, serta pengelolaan operasi yang unggul," ujar Hermansyah dikutip Selasa (30/6/2026).
Kontribusi PHE terhadap sektor energi nasional terus meningkat. Saat ini perusahaan memasok sekitar 65% produksi minyak nasional dan 37% produksi gas nasional. Selain itu, PHE mengelola sekitar 27% wilayah kerja migas yang beroperasi di Indonesia.
Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan aktivitas pengembangan lapangan dan eksplorasi yang semakin agresif dalam beberapa tahun terakhir. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah semakin menurunnya produktivitas lapangan migas yang telah lama beroperasi.
PHE terus memperkuat portofolio eksplorasi melalui penambahan wilayah kerja baru. Sejak 2022 hingga 2025, perusahaan memperoleh sembilan wilayah kerja eksplorasi, termasuk tiga wilayah kerja baru pada 2025, yakni Binaiya di Maluku, Lavender di Sulawesi Tenggara, dan Bobara di Papua.
Selain memperluas area eksplorasi, PHE juga mencatatkan penemuan potensi sumber daya kontingen atau contingent resources (2C) sebesar 1.097,43 juta barel setara minyak (MMBOE). Sebagian besar tambahan sumber daya tersebut berasal dari temuan migas nonkonvensional di Wilayah Kerja Rokan yang mencapai 724,22 juta barel minyak (MMBO).
Di sisi teknologi, perusahaan terus mengembangkan berbagai inovasi untuk meningkatkan produktivitas lapangan. Beberapa di antaranya, meliputi implementasi multistage fracturing pertama pada sumur horizontal Kotabatak, pengembangan North Duri Development Area 14 melalui teknologi steamflood, serta penerapan chemical enhanced oil recovery (CEOR) di Minas Area A. Enhanced oil recovery (EOR) merupakan metode peningkatan perolehan minyak dengan memanfaatkan teknologi untuk mengangkat minyak yang masih tersisa di reservoir.
Fokus Tingkatkan Produksi pada 2026
Memasuki 2026, PHE menyiapkan berbagai program strategis guna meningkatkan produksi sekaligus memperbesar cadangan migas nasional. Fokus perusahaan mencakup revitalisasi aset yang telah berproduksi, pengembangan lapangan baru atau greenfield, penerapan EOR, eksplorasi migas konvensional maupun nonkonvensional, optimalisasi kebijakan fiskal, hingga pengembangan teknologi carbon capture and storage serta carbon capture, utilization and storage (CCS/CCUS) untuk mendukung dekarbonisasi industri migas.
Baca Juga
PHE Gandeng ExxonMobil dan SK Group Kembangkan CCS RI-Korsel, Potensi Investasi US$ 600 Juta
Strategi tersebut akan diwujudkan melalui sejumlah proyek utama, antara lain pengembangan Lapangan Akasia Prima, Padang Pancuran, OO OX ONWJ, Sisi Nubi AOI, South Senoro, Manpatu, dan Masela. Di sisi lain, perusahaan juga melaksanakan program peremajaan aset di area Benuang, Lima ONWJ, ABAB, Tanjung Miring Barat, Lembak Kemang Tapus, dan Salawati.
PHE juga akan melanjutkan penerapan teknologi multistage fracturing di Wilayah Kerja Rokan, mempercepat eksplorasi laut dalam di Natuna Timur, mengembangkan proyek CCS, serta mengoptimalkan implementasi kebijakan fiskal dan regulasi sektor hulu migas. Berbagai langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas Indonesia dalam jangka panjang.
