Harga Emas Anjlok 1,3% dan Perak Tersungkur 5% Seusai Sinyal 'Hawkish' The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dan perak dunia melemah tajam pada Selasa (23/6/2206) setelah pasar keuangan global diguncang aksi jual saham teknologi. Tekanan semakin besar setelah pelaku pasar menilai sikap terbaru Federal Reserve (The Fed) mengarah pada kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Kontrak berjangka emas turun 1,3% menjadi US$ 4.149,40 per ons, sementara kontrak berjangka perak merosot lebih dari 5% dan ditutup pada US$ 62,07 per ons. Pelemahan tersebut terjadi ketika investor mulai mengalihkan fokus dari risiko geopolitik ke prospek suku bunga yang lebih tinggi di Amerika Serikat (AS).
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Tajam, Efek Kebijakan The Fed?
Sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada Jumat (28/2/2026), status emas sebagai aset safe haven atau tempat berlindung saat ketidakpastian pasar mulai menghadapi tantangan. Sejumlah faktor yang sebelumnya mendorong reli harga emas kini dipertanyakan oleh pelaku pasar.
Sentimen negatif terhadap emas semakin menguat setelah pertemuan The Fed pekan lalu yang dipimpin Kevin Warsh. Hasil pertemuan lebih hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter ketat dibandingkan perkiraan pasar sebelumnya.
Nada hawkish tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada akhir tahun. Prospek suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen pendapatan tetap lainnya.
Perubahan pandangan juga mulai terlihat di kalangan institusi keuangan besar Wall Street. Sejumlah bank investasi memangkas proyeksi harga emas setelah mencermati arah kebijakan moneter terbaru dari The Fed.
Ahli strategi komoditas, Michael Widmer, menilai target harga emas di level US$ 6.000 per ons kini semakin sulit dicapai. Menurut dia, tekanan inflasi masih berada pada tingkat yang tidak nyaman sehingga berpotensi mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat dalam beberapa kuartal mendatang.
"Target harga emas sebelumnya sebesar US$ 6.000 per ons tampaknya tidak mungkin tercapai sekarang, karena latar belakang inflasi tetap tidak nyaman," tulis Widmer dalam catatannya dilansir CNBC.
Pandangan serupa disampaikan Deutsche Bank dalam laporan yang diterbitkan Selasa. Bank asal Jerman tersebut menilai keseimbangan kekuatan di pasar emas kini bergeser dari kelompok investor yang optimistis terhadap kenaikan harga logam mulia menuju pihak yang mendukung kebijakan moneter ketat. "Para pendukung kebijakan moneter ketat mengusir para pendukung kenaikan harga di pasar emas," tulis Deutsche Bank dalam laporannya.
Baca Juga
Harga Emas Menguat Saat Harapan Kesepakatan AS-Iran Tekan Harga Minyak
Deutsche Bank merevisi target harga emas menjadi US$ 4.300 per ons untuk kuartal ketiga dengan asumsi The Fed mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Namun, bank tersebut juga mengingatkan adanya risiko penurunan yang lebih dalam apabila bank sentral AS menaikkan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali.
Dalam skenario tersebut, harga emas berpotensi turun hingga menyentuh US$ 3.800 per ons. Proyeksi itu menunjukkan bahwa arah kebijakan The Fed kini menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan logam mulia, menggeser dominasi sentimen geopolitik yang sebelumnya menopang harga.
