Kuota Hangus Sering Digugat, Pengamat Ungkap Alasan Konsumen Kini Pilih Paket 'Rollover'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Polemik kuota internet hangus yang berujung gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) dinilai mencerminkan perubahan perilaku konsumen. Masyarakat kini semakin menginginkan skema kuota rollover yang tidak langsung hangus saat masa aktif berakhir.
Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan, tren tersebut muncul seiring perubahan pola penggunaan internet. Konsumen mulai mempertanyakan manfaat kuota yang sudah dibeli tetapi tidak bisa digunakan setelah masa aktif habis.
"Kita melihat ada kecenderungan konsumen mulai menginginkan skema rollover karena pola penggunaan internet semakin dinamis. Masyarakat merasa kuota yang sudah dibayar seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal dan tidak langsung hangus ketika masa aktif berakhir," kata Heru kepada Investortrust.id, Senin (22/6/2026).
Menurut Heru, gugatan terkait kuota hangus menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat. Pelanggan kini menuntut layanan yang lebih adil dan transparan dari operator telekomunikasi.
Heru menilai sejumlah operator sebenarnya sudah menawarkan paket rollover. Namun, informasi mengenai mekanisme dan syaratnya belum dipahami secara luas oleh pelanggan.
Baca Juga
Telkomsel, Indosat, dan XLSmart Ajukan 4 Usulan soal Kuota Hangus di MK
"Sebagian operator sebenarnya sudah memiliki paket rollover, tetapi informasi mengenai syarat dan ketentuannya sering tidak disampaikan secara sederhana," ujarnya.
Ia menjelaskan banyak pelanggan belum memahami batas waktu akumulasi kuota. Selain itu, konsumen juga belum memahami jenis kuota yang bisa dibawa ke periode berikutnya dan syarat perpanjangan paket.
Karena itu, transparansi informasi perlu ditingkatkan. Edukasi kepada pelanggan juga harus diperkuat agar tidak menimbulkan salah persepsi.
Menurut pengamat teknologi itu, langkah ATSI dan operator seluler memperluas pilihan paket rollover bisa menjadi solusi. Namun, konsumen harus mendapatkan informasi yang jelas sebelum memilih layanan.
Kenaikan tarif bukan isu krusial
Menyoal potensi kenaikan tarif, Heru menilai hal itu seharusnya tidak menjadi alasan utama. Sebab, volume kuota yang dibeli pelanggan pada dasarnya tetap sama.
"Kalau dari penjelasan operator telekomunikasi, potensi penyesuaian harga memang ada karena operator harus mengelola beban jaringan dan model bisnis yang berbeda. Namun seharusnya itu tidak perlu terjadi karena volume paket yang dibeli sama, tidak ada perubahan, hanya waktunya saja yang berubah," sambungnya.
Heru menilai sebagian besar pelanggan menghabiskan kuota internet dalam waktu satu hingga dua bulan. Tingginya penggunaan media sosial dan layanan video membuat kuota tetap cepat habis.
"Kalau masyarakat biasa pengeluaran untuk kuota rata-rata Rp 15.000 sampai Rp 100.000 per bulan, biasanya kuota habis dalam satu sampai dua bulan," jelas Heru.
Karena itu, ia menilai skema rollover sebaiknya menjadi pilihan layanan. Skema tersebut tidak perlu diwajibkan untuk seluruh paket internet.
Dengan demikian, konsumen dapat memilih paket rollover atau non-rollover sesuai kebutuhan. Pilihan tersebut juga dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pelanggan.
"Ini seharusnya menjadi opsi. Yang mau tanpa rollover juga bisa tetap ditawarkan dan dipilih oleh konsumen," pungkas Heru.
