Bos Danantara Bidik Indonesia Open Network (ION) Jadi Fondasi Baru Ekonomi Digital Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust — Pemerintah Indonesia tengah bersiap membangun infrastruktur ekonomi digital generasi berikutnya yang diklaim akan jauh lebih efisien, terbuka, dan inklusif. Langkah ini diambil guna memastikan akselerasi digitalisasi nasional mampu merangkul seluruh lapisan pelaku usaha, termasuk sektor mikro dan kecil.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini sedang menjajaki pengembangan konsep Infrastruktur Digital Publik Terbuka (Open Digital Public Infrastructure) melalui inisiatif bernama Indonesia Open Network (ION).
"Indonesia sedang membangun fondasi ekonomi digital generasi berikutnya yang lebih efisien, terbuka, dan mampu menjangkau lebih banyak pelaku usaha," ujar Rosan dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (20/5/2026)
Rencana strategis tersebut dibahas secara mendalam dalam pertemuan antara Menteri Rosan dengan Duta Besar India untuk Indonesia, H.E. Sandeep Chakravorty, serta Steering Committee ION sekaligus CEO Indonesia Economic Forum, Sachin V. Gopalan.
Kerja sama ini dinilai strategis mengingat India dikenal sebagai salah satu negara pelopor yang sukses mengimplementasikan Digital Public Infrastructure (DPI) berskala masif, seperti sistem pembayaran instan Unified Payments Interface (UPI). Keberhasilan India tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan dalam menyusun peta jalan ekosistem ION di tanah air.
Baca Juga
Demokratisasi e-Commerce, Indonesia Open Network (ION) Siap Meluncur Juli 2026
Rosan menegaskan, transformasi ini tidak sekadar berfokus pada modernisasi teknologi atau peningkatan angka investasi semata. Jauh dari sekadar hitungan transaksional, misi utama dari pembangunan ION adalah pemerataan kesempatan ekonomi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
"Selain mendorong adopsi teknologi, upaya ini untuk memastikan ekonomi digital kita bekerja untuk semua," tegasnya.
Melalui kehadiran Indonesia Open Network (ION), hambatan masuk (barrier to entry) bagi para pelaku usaha lokal, khususnya sektor UMKM, diharapkan dapat ditekan serendah mungkin. Infrastruktur digital yang bersifat terbuka ini diproyeksikan akan memutus sekat-sekat birokrasi dan monopoli sistem, sehingga aliran modal, akses pasar, dan konektivitas bisnis dapat dijangkau oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun.
Pemerintah optimistis bahwa fondasi baru ini tidak hanya akan menarik minat investor global di sektor teknologi, tetapi juga melahirkan kedaulatan ekonomi digital yang lebih mandiri dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebagai infrastruktur publik digital publik, ION mengadopsi sistem Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India. Adapun ION dijadwalkan akan diluncurkan pada Juli 2026.
Momen ini direncanakan bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang akan bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. Kunjungan PM Modi tersebut diagendakan sebagai ajang penguatan kolaborasi strategis di sektor digital. Peluncuran ION menjadi simbol kemitraan nyata kedua negara dalam membangun kedaulatan digital yang mandiri.
Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang mengadopsi model jaringan terbuka ini, sebuah langkah yang disebut sebagai 'demokratisasi perdagangan global' oleh para inisiatornya.
CEO ONDC India, T. Koshy, dalam kesempatan terpisah menekankan pentingnya posisi Indonesia dalam inovasi kawasan.
"Indonesia adalah pemimpin di ASEAN untuk inisiatif ini. Apa yang kita bangun di sini adalah sistem yang lebih canggih, berbasis AI, dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal Indonesia," kata Koshy dalam peluncuran Workshop bersama para pengembang dan mitra strategis ION di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
