PT Indonesia Open Network (ION) Resmi Berdiri, Bidik Kapitalisasi US$ 100 Juta Tahap Pertama untuk Bangun Infrastruktur Publik Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Indonesia Open Network (ION) resmi berdiri di Indonesia. Perusahaan ini akan dikembangkan sebagai infrastruktur publik digital (digital public infrastructure/DPI) untuk mendorong aktivitas perdagangan digital (digital commerce) serta mendukung pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). ION menargetkan kapitalisasi tahap pertama senilai US$ 100 juta.
Presiden Direktur ION, Bayu Prawira Hie mengungkapkan, pendirian PT ION ditandai dengan penandatanganan akta pendirian perusahaan oleh PT Chairos International Ventures dan Yayasan ION Teknologi Indonesia.
"Jadi, hari ini adalah penandatanganan pendirian PT Indonesia Open Network (ION)," kata Bayu usai penandatanganan akta pendirian PT ION di Sekretariat Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Gedung Permata Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga
Presdir ION Bayu Prawira Hie: Indonesia Butuh Infrastruktur Digital yang Menggerakkan UMKM
Dalam struktur awal kepemilikan, menurut Bayu, PT Chairos International Ventures memegang 2.500.000 saham seri A, sedangkan satu saham lainnya merupakan saham khusus dengan hak istimewa (golden share) yang dimiliki Yayasan ION Teknologi Indonesia.
Bayu menjelaskan, PT Chairos saat ini berstatus sebagai pemegang saham sementara. Saham tersebut nantinya dapat dialihkan kepada investor baru yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan ION.
"Saham yang 2.500.000 dimiliki oleh PT Chairos, satu saham lainnya dimiliki oleh Yayasan ION Teknologi sebagai mission guardian," papar dia.
Adapun modal dasar PT ION, kata Bayu Prawira, ditetapkan sebesar Rp 10 miliar dengan modal disetor Rp 2,5 miliar. Dalam pengembangan selanjutnya, ION menargetkan kapitalisasi tahap pertama sebesar US$ 100 juta.
"Tahap pertama kita targetkan kapitalisasi sekitar US$100 juta. Kita sudah buatkan time frame-nya untuk program kapitalisasi," tutur dia.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) PT Chairos International Ventures, Sachin Gopalan mengatakan, PT ION dibentuk sebagai wadah investasi bagi sejumlah pihak dari Indonesia maupun internasional.
Namun, menurut Sachin, fokus awal perusahaan diarahkan kepada perusahaan-perusahaan Indonesia karena ION dikembangkan sebagai infrastruktur publik digital di Tanah Air.
"Tujuan membangun PT (ION) ini adalah supaya menjadi vehicle untuk investasi beberapa pihak dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Tapi fokus kepada perusahaan dari Indonesia dulu," papar dia.
Menurut Sachin Gopalan, ION akan menjadi digital public infrastructure yang dapat digunakan masyarakat untuk aktivitas digital commerce dan menyediakan berbagai perangkat guna meningkatkan kapabilitas digital perusahaan-perusahaan Indonesia.
Sachin mengungkapkan, dalam penggalangan modal, pihaknya membidik sedikitnya 20 pemegang saham baru. Masing-masing investor ditargetkan berinvestasi sekitar US$ 5 juta sehingga total kapitalisasi yang dibidik mencapai US$ 100 juta.
"Kita sedang cari US$ 5 juta dari 20 perusahaan agar mendapatkan kapitalisasi US$ 100 juta. Tapi prinsipnya ini tidak boleh satu pun yang bisa dominan, fair share semua," ujar dia.
Sachin menjelaskan, calon pemegang saham tersebut nantinya berasal dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah atau BUMN, perbankan, manufaktur, hingga perusahaan teknologi.
Sachin menuturkan, perusahaan teknologi seperti Google LLC telah mengambil posisi dalam pengembangan open network melalui hibah (grant) yang diberikan kepada PT ION.
"Technology player yang besar seperti Google sudah take position untuk open network melalui grant yang sudah diberikan untuk membangun ION," tandas dia.
Sachin Gopalan menambahkan, konsep open network tidak hanya dikembangkan di India dan Indonesia, tetapi juga sedang diinkubasi untuk Malaysia, Thailand, dan Brasil.
Perihal peran Yayasan ION Teknologi Indonesia, Sachin mengemukakan, yayasan tersebut tidak digunakan sebagai wadah investasi, melainkan sebagai mission guardian untuk memastikan ION tetap menjalankan mandat sebagai infrastruktur publik digital.
"Foundation bukan untuk cara masukin investasi, tapi foundation-nya lebih ke mission guardian. Itu adalah public utility infrastructure company. Jadi, nggak boleh nyasar dari mandat yang sudah diberi ke PT-nya," jelas dia.
Menurut Sachin, keberadaan yayasan diperlukan karena PT ION nantinya diharapkan memiliki banyak pemegang saham (shareholder) dengan kepentingan masing-masing dari berbagai sektor.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan ION Teknologi Indonesia sekaligus Presiden Direktur PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), Ronald Walla menegaskan, pihaknya akan menjaga visi dan misi ION.
“ION telah membangun buyer and seller apps, termasuk berkolaborasi dengan Indomaret dan Kementerian UMKM. Fungsi kita dari Yayasan ION Teknologi Indonesia itu untuk menjadi guardian dari misi visi ION yang nantinya bisa sangat luas kontribusinya kepada bangsa dan negara Indonesia, selain dari digital commerce," papar Ronald.
Dia menyampaikan, pengembangan ION akan diarahkan untuk membantu pelaku UMKM memperoleh akses pasar dan pemasaran. "Masalah utama dari UMKM atau pengusaha pada umumnya yaitu akses pasar, pemasaran. Jadi, itu menjadi sebuah tools yang sangat efisien dan mudah-mudahan menjadi produktif," tutur Ronald.
Ronald menambahkan, pihaknya membuka kesempatan kepada para pengembang untuk menjadi pemangku kepentingan ION di Indonesia.
ION Setelah Resmi Berdiri
Bayu Prawira Hie mengungkapkan, setelah PT ION resmi berdiri, langkah terdekat perusahaan adalah membangun struktur organisasi dan menyiapkan berbagai perjanjian dengan pihak-pihak terkait.
Baca Juga
ION, Jalan Indonesia Merebut Kedaulatan Ekonomi Digital dari Dominasi Platform Besar
"Kita akan melaksanakan pengembangan struktur organisasi sesuai dengan yang kita butuhkan, sambil terus menjalankan roda-roda yang sudah kita rintis jauh sebelum PT ION ini diresmikan," kata Bayu.
Selain itu, menurut Bayu, pihaknya akan mengatur perjanjian-perjanjian dengan para pihak terkait. “Kita benar-benar mulai membangun secara riil untuk mengimplementasikan ION ini," ucap dia.
Bayu menekankan, pembentukan PT ION diperlukan karena aktivitas perusahaan akan mencakup kegiatan niaga dan bisnis sehingga membutuhkan badan hukum yang jelas.
"PT ION ini bukan karena kita startup. ION bukan startup. ION adalah digital public infrastructure yang kita bangun bersama-sama untuk kepentingan bersama," tegas dia.
