Rupiah Tembus Rp 17.660, Apindo Sebut Sektor Manufaktur Alami Tekanan Biaya Berat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyebutkan saat ini dunia usaha berada dalam situasi yang cukup menantang, menyusul dalamnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini sudah menyentuh Rp 17.660 per US$.
Menurut Shinta, kondisi dunia usaha semakin diperparah dengan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global. Kenaikan harga minyak mentah berikutnya mengerek biaya impor minyak Indonesia sehingga meningkatkan kebutuhan atas dolar AS yang pada ujungnya membuat rupiah melemah. Di saat yang sama, investor memilih aset save havenn berupa dolar AS karena dianggap lebih aman selama masa perang.
Dikatakan Shinta, situasi ini menciptakan apa yang bisa disebut sebagai externally driven cost pressure terhadap sektor usaha, khususnya manufaktur.
"Jika kita melihat lebih dalam, tekanan paling besar dirasakan oleh subsektor manufaktur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor dan energi," ucap Shinta kepada Investortrust.id, Senin (18/5/2026).
Ia juga memaparkan, ketergantungan terhadap bahan baku impor yang mencapai sekitar 70%, mengakibatkan rupiah terdepresiasi dan membuat cost of goods sold membengkak dan pada akhirnya menekan margin usaha pelaku industru. Bagi Shinta, kondisi ini amat terlihat pada industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, serta industri berbasis komponen impor seperti elektronik dan otomotif.
Baca Juga
Shinta juga menggambarkan industri plastik, yang telah mengalami lonjakan biaya bahan baku secara drastis akibat kenaikan harga bahan baku nafta yang sangat tinggi. Sekadar informasi, kenaikan harga nafta telah mencapai lebih dari 92% sejak awal tahun, yang diikuti dengan kenaikan harga bahan baku plastik sekitar 80%. Tingginya harga bahan baku plastik pada akhirnya mendorong lonjakan harga produk hingga di atas 50%, bahkan mencapai 100% pada segmen tertentu seperti plastik kemasan.
"Secara data, kita juga melihat bahwa meskipun secara tahunan sektor manufaktur masih tumbuh sekitar 5,04%, namun secara kuartalan (q-to-q) justru mengalami kontraksi sebesar minus (-) 1,01%. Dari 16 subsektor manufaktur pada kuartal I 2026, terdapat 10 subsektor yang tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61%, dan 4 subsektor mengalami kontraksi," paparnya.
Lebih lanjut, Shinta pun mengungkapkan, beberapa subsektor yang juga mengalami tekanan cukup dalam (yoy) antara lain industri karet dan plastik yang terkontraksi -9,01%, diikuti alat angkutan sebesar -5,02%, pengolahan tembakau -4,05%, serta industri kayu dan turunannya sebesar -0,02%. Padahal sepanjang kuartal I nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.900 per dolar AS.
"Sementara saat ini telah mengalami pelemahan lebih lanjut hingga menembus level di atas Rp17.600, yang tentu semakin memperbesar tekanan biaya pada sektor manufaktur," imbuh Shinta.

