Bagikan

PMI Manufaktur Melemah, Kadin Soroti Tekanan Permintaan dan Biaya Produksi

Poin Penting

PMI manufaktur Indonesia melemah ke 50,1 dari 53,8, mencerminkan perlambatan meski masih berada di zona ekspansi.
Pelemahan dipicu turunnya permintaan, terutama ekspor, serta tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok.
Kadin mendorong pemerintah menjaga stabilitas energi dan efisiensi rantai pasok untuk menopang daya saing industri.

JAKARTA, investortrust.id - Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami pelemahan meski masih berada di level ekspansi, yakn 50,1. Namun, angka ini menunjakan perlambatan jika dibandingkan dengan Februari 2026 kemarin yang berada di level 53,8.

Merespons kondisi tersebut, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin menilai, perlambatan PMI manufaktur Indonesia dipicu oleh melemahnya permintaan, terutama dari penurunan pesanan ekspor baru di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Saleh menjelaskan bahwa tekanan dari sisi permintaan menjadi faktor utama yang menahan ekspansi sektor manufaktur. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga energi serta gangguan rantai pasok yang masih berlanjut.

“Terjadi kombinasi antara demand shock dan cost pressure yang membuat laju ekspansi industri melambat signifikan, bahkan mendekati ambang stagnasi di level 50,” ujarnya kepada awak media, Kamis (2/4/2026).

Baca Juga

PMI Manufaktur RI Masih Ekspansi, Menperin: Industri Nasional Kuat di Tengah Tekanan Global

Menurut Saleh, pelemahan pesanan ekspor memberikan dampak langsung terhadap sektor padat karya. Penurunan permintaan mendorong turunnya utilisasi kapasitas produksi, menekan margin perusahaan, hingga berpotensi memicu penyesuaian tenaga kerja.

Lebih lanjut, Kadin memandang PMI manufaktur masih berpotensi bertahan di zona ekspansi, meski dalam level yang sangat terbatas. Namun, kondisi tersebut dinilai tetap rentan terhadap berbagai tekanan eksternal.

Selain itu, ia pun mendorong pemerintah untuk memperkuat langkah-langkah strategis guna menjaga ketahanan sektor manufaktur, termasuk memastikan stabilitas pasokan energi dan memperbaiki efisiensi rantai pasok di tengah dinamika global yang belum stabil.

“Arah PMI ke depan akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri,” terang mantan Menteri Perindustrian tersebut.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024