Dukung Pengurangan Ketergantungan BBM, Organda Minta Harga Energi Stabil
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Organisasi Angkutan Darat (Organda) mendukung langkah pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM). Namun, pelaku usaha angkutan menilai terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan agar kebijakan tersebut tidak membebani operator.
Ketua Angkutan Pariwisata DPP Organda, Anthony Steven H mengatakan, stabilitas harga energi menjadi faktor penting bagi pelaku usaha transportasi. Menurutnya, kepastian harga lebih dibutuhkan dibandingkan murah atau mahalnya BBM.
“Kami positif mendukung pemerintah mengurangi ketergantungan BBM supaya biaya energi juga lebih stabil. Jadi buat pengusaha itu yang penting stabil, mau mahal mau murah yang penting bisa dihitung, jangan sampai hari ini Rp 6.800 besok Rp 10.000, pusing kita hitungnya karena kita kalau sama konsumen harganya sudah tetap,” kata Anthony dalam FGD bertajuk "Solusi Strategis Hadapi Kelangkaan BBM: Akselerasi Elektrifikasi Transportasi Publik dan Industri" di Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga
Dia menambahkan, elektrifikasi transportasi juga dinilai sejalan dengan upaya ramah lingkungan. Namun, tantangan utama berada pada biaya investasi awal yang tinggi.
Organda sebelumnya telah melakukan uji coba bus listrik rute Jakarta–Yogyakarta dan menilai dari sisi perilaku konsumen tidak mengalami perubahan signifikan.
“Kami waktu itu sudah kerja sama dengan Kalista (PT Kalista Nusa Armada), sudah uji coba bus dari Jakarta ke Jogja dan itu tidak mengubah perilaku konsumen. Datang ke rumah makan, makan sekitar 1 jam sambil nge-charge, jalan lagi sampai Jakarta, itu oke,” terang Anthony.
Meski demikian, keterbatasan infrastruktur pengisian daya mobil listrik masih menjadi kendala. Anthony mencontohkan, penggunaan satu unit pengisi daya membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk satu bus, sehingga jika ada lebih dari satu kendaraan, waktu tunggu menjadi lebih panjang. “Kalau ada dua bus di jam bersamaan, ini nunggu 1 jam nge-charge, bus kedua nunggunya 2 jam karena harus menunggu bus pertama,” ujar dia.
Selain infrastruktur, Anthony menyoroti risiko teknologi baru, skema pembiayaan yang lebih tinggi, serta kekhawatiran depresiasi kendaraan listrik di mata konsumen. “Yang ditakutkan oleh konsumen saat ini terhadap kendaraan listrik depresiasinya. Habis itu enggak laku dijual mau diapain,” ucap dia.
Dalam jangka pendek, Organda mengusulkan prioritas suplai BBM bagi angkutan umum sebagai respons krisis. “Angkutan umum ini baik penumpang maupun barang, kita yang menggerakkan roda ekonomi. Jadi kalau itu sampai berhenti, stroke ke negaranya,” imbuh Anthony.
Organda juga mendorong subsidi yang lebih tepat sasaran langsung kepada operator, penyesuaian tarif berbasis formula BBM, subsidi tarif tol, serta stimulus pajak suku cadang. Selain itu, mereka mengusulkan pembebasan pajak kendaraan bermotor untuk angkutan umum.
“Penyesuaian tarif berbasis formula BBM, sebenarnya kami malah mendorong ada penyesuaian harga BBM. Terakhir kita naik itu 2023 dan hingga saat ini kami enggak bisa naikin tarif padahal barang-barang inflasi semua,” kata Anthony.
Baca Juga
Organda Soroti Bus Wisata Tak Laik Administrasi Seusai Kecelakaan di Tol Pemalang
Untuk jangka menengah, Organda mengusulkan program konversi bertahap menuju kendaraan hybrid atau listrik penuh dengan dukungan insentif perpajakan. Sementara jangka panjang, diperlukan penguatan ekosistem elektrifikasi dan standardisasi teknologi agar spesifikasi kendaraan listrik seragam.
Organda juga meminta perluasan skema buy the service (BTS) agar operator eksisting tetap terlibat dalam transisi menuju kendaraan listrik. “Jangan sampai operator lama dimatikan. Kami mendukung elektrifikasi namun harus sustainable secara bisnis dan tidak membebani operator,” kata Anthony.
Dia pun menegaskan, momentum penghematan BBM sebaiknya dimanfaatkan untuk menyusun peta jalan atau blueprint jangka panjang terkait transportasi rendah emisi. “Harapan kami regulator membuat blueprint jangka panjang, tidak hanya fokus satu masa kabinet,” kata Anthony.

