Saham Adaro (ADRO) Melesat 13,69%, Ternyata Gara-gara Ini
JAKARTA, Investortrust.id – Harga saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) berhasil melanjutkan penguatan sepanjang Agustus 2023 berjalan. Penguatan tersebut didukung atas kenaikan harga jual batu bara dan perubahan mekanisme penentuan harga batubara acuan (HBA).
Berdasarkan data BEI, saham ADRO telah menguat dari level penutupan akhir Juli 2023 senilai Rp 2.410 menjadi Rp 2.740 pada perdagangan intraday sesi I. Angka tersebut merepresentasikan penguatan 13,69%.
Baca Juga
Jual 32,62 Juta Ton Batubara, Adaro Energy (ADRO) Raup Laba Inti US$ 1,02 Miliar
CGS CIMB Sekuritas dalam riset terbaru yang diterbitkan pekan lalu menyebutkan bahwa Adaro Energy dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bakal diuntungkan oleh pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) batu bara, karena porsi penjualan domestik besar.
Berdasarkan laporan riset CGS CIMB Sekuritas, dikutip Minggu (20/8/2023), pemerintah mendorong pembentukan BLU batu bara. Tugas badan ini adalah mengambil pungutan ekspor batu bara dari para pemain. Selanjutnya, dana itu akan dikembalikan ke para pemain yang menjual batu bara di pasar domestik dengan harga patokan pemerintah.
Hal ini membuat selisih harga batu bara ekspor dan harga domestik akan ditutup dari dana BLU dan dibayar ke perusahaan batu bara. “Kami melihat ada potensi kebijakan ini dieksekusi pemerintah, tinggal waktunya saja yang belum pasti,” tulis CGS CIMB.
Baca Juga
Volume Penjualan Tumbuh, Pendapatan Adaro Minerals (ADMR) Naik Jadi US$ 463,6 Juta
Pandangan positif terhadap emiten batubara, termasuk Adaro, juga datang dari Keputusan Menteri ESDM Nomor 227.K/MB.01/MEM.B/2023 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan Untuk Penjualan Komoditas Batubara akan berimbas positif terhadap emiten batubara.
Peraturan baru tersebut justru membuat perhitungan harga batubara untuk pasar domestik lebih riil sesuai dengan kondisi harga terkini.
Analis Trimegah Sekuritas Willinoy Sitorus dan Alpinus Dewangga mengungkapkan, peraturan baru tersebut mengubah formula perhitungan harga batubara acuan (HBA) dan harga patokan batubara (HPB) dengan mempertimbangkan harga pasar spot untuk menghitung pajak royalti.
“Perhitungan harga jual batubara baru juga akan memperhitungkan CV, tingkat sulfur, kadar air, dan kadar debu,” tulis Willinoy dan Alpinus dalam riset terbaru.
Di tengah perubahan peraturan tersebut, Trimegah Sekuritas merekomendasikan beli saham ITMG dan ADRO dengan target harga masing-masing Rp 36.000 dan Rp 3.100. Sedangkan saham PTBA dan INDY direkomendasikan netral dengan target harga Rp 3.000 dan Rp 2.200.
Sebelumnya, Adaro mengumumkan raihan laba inti senilai US$ 1,02 miliar pada semester I-2023 atau turun 29% dari periode sama tahun lalu US$ 1,44 miliar. Pendapatan perseroan juga turun tipis dari US$ 3,54 miliar menjadi US$ 3,47 miliar.
Baca Juga
Indeks Dolar Melemah, IHSG Dibuka Menguat 14,07 Poin Rabu Pagi
Penurunan pendapatan tersebut dipicu atas pelemahan rata-rata harga jual batu bara mencapai 18% sepanjang semester I-2023. Sedangkan volume penjualan batu bara perseroan melesat 19% menjadi 32,62 juta ton dan produksi naik 33,41 juta.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Garibaldi Thohir atau Boy Thohir mengatakan, operasional Adaro mencatatkan pertumbuhan sepanjang semester I-2023, meski fluktuasi harga dan kenaikan biaya tengah melanda. “Walaupun ada tantangan-tantangan ini, kami berhasil mencatat margin yang sehat dengan menghasilkan laba inti US$ 1,02 miliar,” ujarnya dalam keterangan resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin.
