Bagikan

Adaro Energy (ADRO) Beberkan Detil Penjualan Adaro Andalan, Terungkap IPO 10% Saham

JAKARTA, investortrust.id – PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengungkap detil penjualan seluruh saham PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) yang diawali dengan penawaran umum perdana (IPO) saham dan dilanjutkan penawaran umum oleh pemegang saham (PUPS).

Berdasarkan data keterbukaan informasi ADRO diungkapkan bahwa nilai transaksi tersebut berkisar US$ 2,44-2,62 miliar. Nilai tersebut setara dengan 31,8-34,1% dair total ekutias perseroan hingga akhir 2023. 

“PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan dan simultan dengan proses penawaran umum perdana atau IPO saham AAI, dimana setelah penawaran IPO saham, total saham AAI yang dimiliki perseroan menjadi 90% yang dilanjutkan dengan PUPS,” terangnya dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (17/10/2024).

Baca Juga

OJK Pelajari Rencana Adaro Energy (ADRO) Soal Divestasi Anak Usahanya

Sedangkan harga IPO saham dan PUPS akan ditentukan kemudian. Penentuan harga PUPS didasarkan rata-rata harga saham AAI di bursa dengan tetap memperhatikan kewajaran transaksi. Rasio saham AAI yang akan didapatkan pemegang saham ADRO disesuaikan dengan kepemilikan sahamnya di ADRO. 

CEO PT Adaro Energy Indonesia Tbk Boy Thohir bersama jajaran direksi dan komisaris lainnya mengenakan seragam SMA saat acara HUT Adaro ke-32. Foto: Investortrust/Primus Dorimulu ()
Source:

Terkait alasan dilakukannya divestasi saham tersebut, manajemen dalam keterbukaan tersebut menyebutkan, didukung komitmen perseroan untuk mendukung penuh program pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, termasuk upaya untuk mencapai net-zero emission pada 2060 atau lebih awal. Perseroan juga berkomitmen untuk memiliki sekitar 50% total pendapatan dari bisnis non-batu bara termal pada 2030.

Target ini akan dicapai dengan mengembangkan bisnis di bidang-bidang yang mendukung ekosistem hijau Indonesia. Saat ini, perseroan sedang mengembangkan smelter aluminum (dalam tahap konstruksi) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) (dalam tahap persiapan konstruksi). Smelter aluminium diharapkan mulai beroperasi pada 2025. Sementara PLTA diharapkan beroperasi pada 2030. 

Baca Juga

Keren! Adaro Energy (ADRO) Nangkring di Urutan Ke-3 TIME World’s Best Companies 2024

Oleh karena itu, pendapatan dari kedua proyek tersebut diproyeksikan akan menambah pendapatan Perseroan serta mendukung pencapaian target 50% pendapatan dari bisnis non batu bara termal.

Guna mendukung komitmen tersebut, manajemen ADRO menyebutka, perseroan berencana untuk memisahkan bisnis pilar pertambangan dan beberapa bisnis pendukung di bawah AAI dengan pilar bisnis Adaro Minerals dan Adaro Green. Langkah ini juga dipandang efektif untuk memaksimalkan kinerja AAI dan pilar-pilar bisnis non batu bara termal,  karena memungkinkan setiap perusahaan untuk fokus pada pengembangan keunggulan inti masing-masing.

Akses Pembiayaan

Selain itu, manajemen perseroan mengungkap, penjualan seluruh saham AAI tersebut akan membantu bisnis hijau Adaro untuk mendapatkan akses terhadap sumber pembiayaan yang lebih banyak, biaya pendanaan yang lebih kompetitif, membuka akses yang lebih baik pada proyek-proyek ramah lingkungan dengan mitra bisnis potensial peringkat atas, serta memberikan opsi investasi yang lebih banyak pada investor publik untuk berinvestasi sesuai dengan minat dan pandangannya.

Saat ini, proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) perseroan masih dalam tahap awal dan belum mendapatkan pembiayaan. “Diharapkan melalui pemisahan ini, Adaro akan dapat mengakses sumber pembiayaan yang lebih kompetitif dari lembaga-lembaga pembiayaan yang fokus pada pendanaan energi hijau,” tulisnya. 

Dump truck mengangkut batu bara di area pertambangan batub ara milik Adaro di Kalimantan Selatan. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal ()
Source:

Diharapkan melalui pemisahan ini, manajemen mengungkap, Adaro Energy akan dapat mengakses sumber pembiayaan yang lebih kompetitif dari lembaga-lembaga pembiayaan yang fokus pada pendanaan proyek energi hijau. Namun demikian, hingga kini, perseroan masih belum memiliki komitmen dengan lembaga pembiayaan manapun untuk mendanai proyek-proyek di bisnis hijau yang sedang dijajaki.

Baca Juga

Garibaldi (Boy) Thohir: Saatnya, Adaro Memberi Kembali ke Bumi Kalimantan

Ke depan, manajemen ADRO meyakini bahwa bisnis-bisnis yang sedang dikembangkan terkait ekonomi hijau akan memberikan potensi pendapatan dan keuntungan yang jauh lebih besar yang didukung oleh pendanaan yang lebih kompetitif. Selain itu, dengan partisipasi dalam bisnis-bisnis terkait ekonomi hijau, perseroan turut mendukung upaya pengendalian perubahan iklim.

Meski melepas seluruh saham AAI, manajemen mengungkap, Adaro masih memiliki bisnis batu bara, khusus batu bara metalurgi, sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi, yaitu PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dengan total cadangan  sebanyak 173 juta ton batu bara metalurgi. Berdasarkan data, ADRO bertindak sebagai pemegang 83,83% saham ADMR.

Grafik Saham ADRO

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024