Presiden Prabowo Mengajak Umat untuk Tidak Benci dan Dendam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang sarat pesan iman, persatuan, dan kemanusiaan pada Perayaan Natal Nasional 2026 yang digelar di Tennis Outdoor Senayan, Jakarta, Senin (5/1/2026) malam. Di hadapan puluhan ribu umat Kristiani dan para tokoh lintas agama, Presiden mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menolak kebencian dan dendam, serta menghidupi semangat mengampuni sebagai fondasi persatuan bangsa.
Pidato Presiden diawali dengan ucapan Selamat Hari Raya Natal kepada seluruh umat Kristiani di Indonesia dan di mana pun berada. Ia berharap damai Natal membawa kebaikan, kasih, pengharapan, dan kekuatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ucapan itu disambut seruan “Amin” dan tepuk tangan meriah dari hadirin.
Presiden menegaskan bahwa perayaan Natal Nasional 2025 merupakan cermin jati diri Indonesia sebagai bangsa majemuk, bangsa yang multietnis, multiras, multiagama, dan multibudaya. Di tengah keragaman yang luar biasa itu, Indonesia mampu hidup bersatu sebagai satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa, karena memiliki niat yang sama: meraih kehidupan yang baik bersama.
Ia mengingatkan keberagaman tersebut bukan kebetulan sejarah, melainkan takdir Ilahi. Manusia tidak memilih lahir dari rahim siapa dan di tanah mana, namun dari takdir itulah lahir bangsa Indonesia.
“Takdir ini yang membuahkan Indonesia,” ujar Presiden disambut tepuk tangan panjang.
Hadir pada perayaan Natal Nasional ini Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, Ketua Dewan Pengarah Perayaan Natal Nasional 2025 Hashim Djojohadikusumo, Ketua Umum Panitia Nasional Maruarar Sirait, Menteri Agama Nasaruddin Menteri, Seskab Teddy Indra Wijaya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Ketua DEN Luhut Binsar Panjaitan, para menko dan para menteri Kabinet Merah-Putih, Dubes PalestinZuhair Saleh Muhammad Al-Shun, para tokoh agama Kristen dan Katolik, delapan pemimpin aras Gereja Nasional, dan 3.000 tamu kehormatan, yakni para koster gereja, anak yatim piatu dari panti asuhan, guru sekolah minggu, guru agama Kristen dan Katolik, dan anggota koor. Total audiens sekitar 3.800.
Baca Juga
Prabowo Sampaikan Selamat Natal: Semoga Membawa Berkah, Kebaikan, dan Kekuatan
Di hadapan para pendeta dan rohaniwan, Presiden mengingatkan ajaran inti Kekristenan tentang mengampuni. Ia menyebut secara eksplisit ajaran Yesus: jika pipi kiri ditampar, berikan pula pipi kanan. Umat serempak menjawab “Betul!” dan tepuk tangan menggema.
Presiden mengaku memahami ajaran itu karena pernah mengenyam pendidikan di sekolah Kristen dan memiliki keluarga Nasrani. Ia bahkan mengutip doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris: Forgive us our trespasses as we forgive those who trespass against us. (Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami).
Bagi Presiden, ajaran mengampuni bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral. Ia menegaskan bahwa dalam politik persaingan keras adalah hal wajar, tetapi setelah pertandingan usai, semua harus kembali bersatu.
Ia lalu mengaitkan ajaran iman dengan pengalaman pribadinya. Presiden mengingatkan bahwa dirinya telah tiga kali kalah dalam Pilpres sebelum akhirnya menang. “Tidak boleh sakit hati, tidak boleh dendam, tidak boleh benci,” ujarnya disambut sorak sorai hadirin.
Presiden menyinggung budaya nyinyir di kalangan elite. Ia menilai kritik itu baik dan perlu, tetapi mengecam fitnah dan ejekan yang merusak persatuan. “Kritik boleh, bahkan bagus. Tapi fitnah tidak,” tegasnya.
Dengan nada reflektif, Presiden mengaku bangga mendapat kehormatan memimpin negara keempat terbesar di dunia. Ia membandingkan Indonesia dengan Eropa yang terdiri dari 27 negara, sementara Indonesia adalah satu negara besar yang utuh. Rasa syukur itu, kata Presiden, harus dibarengi tanggung jawab besar dalam mengelola kekayaan bangsa.
Namun, Presiden juga mengingatkan bahwa kekayaan alam yang melimpah bisa menjadi berkah sekaligus kutukan. Jika tidak dikelola dengan bijak dan adil, bangsa tidak boleh menyalahkan siapa pun atas nasib yang dialami. Pesan ini ia sampaikan sebagai peringatan moral sekaligus spiritual.
Di tengah dunia yang dilanda perang dan ketidakpastian global, Presiden mengajak umat bersyukur karena Indonesia hingga kini hidup dalam suasana relatif damai. Ia mengakui bahwa perselisihan dan konflik pasti ada di negara sebesar Indonesia, tetapi secara umum Indonesia dipandang dunia sebagai bangsa yang mampu hidup harmonis dan saling menghormati.
Presiden lalu mengutip hasil survei global Harvard University dan Gallup Poll yang menyebut Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia. Fakta ini, menurutnya, mengharukan sekaligus membingungkan bangsa-bangsa lain, mengingat banyak rakyat Indonesia hidup sederhana dan belum sepenuhnya sejahtera.
“Rakyat kita sederhana, tapi bahagia,” ujar Presiden. Kalimat itu kembali disambut tepuk tangan panjang. Ia menilai kebahagiaan tersebut adalah modal sosial dan spiritual yang sangat besar bagi masa depan bangsa.
Presiden mengaku karena itulah ia dan jajaran pemerintah bekerja keras sejak hari pertama menjabat. Ia menyebut para menterinya sebagai putra-putri terbaik bangsa yang bekerja dengan dedikasi tinggi. Ia juga mengenang pengalamannya selama lima tahun bergabung dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagai masa “magang” dan pembelajaran.
Dalam suasana hangat, Presiden berbagi kisah bahwa saat pertama kali masuk kabinet pada 2019 sebagai pihak yang kalah pilpres, ia menyadari banyak orang di kabinet tersebut adalah sosok-sosok terbaik yang tetap akan ia ajak bekerja jika kelak ia menang. “Dan itu terbukti,” katanya, disambut tawa dan tepuk tangan.
Presiden bahkan berkelakar bahwa ia mungkin kalah tiga kali karena belum didukung tokoh tertentu saat itu. Candaan itu mencairkan suasana, namun pesannya tetap tegas: jangan patah semangat dalam hidup.
Dalam konteks kebijakan, Presiden menyampaikan capaian swasembada beras yang berhasil diraih hanya dalam satu tahun, lebih cepat dari target empat tahun. Ia menegaskan bahwa sepanjang 2025 Indonesia tidak mengimpor beras sama sekali.
Keberhasilan itu, menurut Presiden, bukan hanya menguntungkan Indonesia, tetapi juga dunia, karena menurunkan harga beras global. Banyak negara, katanya, menyampaikan terima kasih kepada Indonesia.
Presiden kemudian menjelaskan latar belakang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengaku hatinya tergerak melihat anak-anak Indonesia yang mengalami stunting dan kekurangan gizi. Ia belajar dari India dan Brasil bahwa program makan bergizi adalah investasi jangka panjang terbaik.
Dengan nada tegas namun bersahaja, Presiden menyebut kini penerima manfaat MBG telah mencapai 55 juta orang. Ia menepis tudingan bahwa program tersebut demi kepentingan Pilpres 2029. “Kalau rakyat memilih saya lagi, apa salahnya?” katanya, disambut riuh hadirin.
Baca Juga
Di Natal Nasional 2025, Prabowo Mengaku Bersyukur jika Dikritik dan Dikoreksi
Pesan utama Presiden kembali pada persatuan. Ia menegaskan bahwa dirinya kini bukan milik satu partai, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia. Tidak ada diskriminasi program berdasarkan pilihan politik daerah.
Ia memberi contoh teladan toleransi dari para pendiri bangsa, termasuk Bung Karno yang menunjuk arsitek Nasrani untuk membangun Masjid Istiqlal. Presiden juga berbagi pengalaman pribadi bekerja dengan umat Katolik dan Kristen dalam berbagai bidang.
Dalam kisah yang mengharukan, Presiden mengenang prajurit-prajuritnya dari berbagai latar agama yang gugur dalam tugas. Ia menceritakan ketulusan seorang ibu prajurit yang rela mengembalikan perlengkapan dinas anaknya yang gugur demi negara.
Cerita itu menjadi penegasan bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan hidup bangsa Indonesia. Presiden mengajak umat untuk saling mengasihi, melindungi, menghormati, dan memaafkan.
Menjelang penutup, Presiden kembali menekankan bahaya fitnah, terutama di era media sosial. Ia mengingatkan bahwa semua agama menolak kebohongan yang menimbulkan kebencian dan perpecahan.
“Kritik itu menyelamatkan, fitnah itu merusak,” kata Presiden. Ia mengibaratkan kritik sebagai peringatan tentang kancing baju yang lupa terpasang—hal kecil yang justru menjaga martabat.
Di akhir pidato, Presiden secara pribadi dan sebagai Kepala Negara menyampaikan permohonan maaf jika ada kata-kata atau kebijakan yang menyinggung siapa pun. Ia menegaskan niat pemerintah semata-mata untuk menghilangkan kemiskinan dan penderitaan rakyat.
Pidato ditutup dengan salam lintas agama dan pekik “Merdeka!”, disambut tepuk tangan panjang. Malam Natal Nasional itu menjadi peneguhan pesan Presiden: Indonesia hanya akan maju jika rakyatnya menolak kebencian, meninggalkan dendam, dan memilih jalan pengampunan serta persatuan.
———
Berikut Pidato Lengkap Presiden Prabowo Subianto saat Perayaan Natal Nasional 2025:
Semangat Mengampuni
Presiden membuka pidatonya dengan ucapan Natal dan doa agar damai Natal menjadi energi kebaikan bagi bangsa.
“Selamat Hari Raya Natal kepada saudara-saudaraku umat Kristiani sebangsa dan setanah air di mana pun Anda berada. Semoga damai Natal membawa kebaikan, berkah, kasih, pengharapan, dan kekuatan bagi kita sekalian."
Saudara-saudara sekalian, acara hari ini adalah bukti dari jati diri kita bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, bangsa yang multietnis, multiras, multiagama, multibudaya.
Kita adalah bangsa yang sangat besar. Para pakar ada yang hitung kelompok etnis yang ada di Indonesia itu 1.700 dengan bahasa daerah yang sangat banyak. Kita di bumi Nusantara ini, suku-suku kita menganut agama-agama yang berbeda-beda, tetapi kita bisa bersatu. Kita bisa hidup sebagai satu bangsa, satu nusa, yang memiliki satu bahasa karena kita punya niat yang sama. Kita ingin meraih kehidupan yang baik bersama.
Kita telah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa untuk hidup di bumi Nusantara ini. Kita tidak bisa menentukan kita lahir di mana, dari rahim ibu yang mana, itu sudah takdir Ilahi. Tapi takdir ini yang membuahkan bangsa Indonesia.
Saya merasa besar hati, saya merasa bangga mendapat kehormatan besar menjadi Presiden dari sebuah negara yang sangat besar, jumlahnya keempat terbesar di dunia.
Negara sebesar Eropa. Eropa 27 negara, kita satu negara. Dan juga saya juga bersyukur saya dipilih oleh rakyat Indonesia. Begitu saya dipilih dan saya dilantik, saya mengerti, saya mengetahui, saya mempelajari keadaan bangsa Indonesia di mana sesungguhnya kita patut bersyukur bangsa kita sungguh memiliki kekayaan yang sangat-sangat besar.
Namun, tantangan yang kita hadapi juga sangat besar. Saya kira sebagai insan hamba Tuhan, kita semua harus mengerti bahwa segala kebaikan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, segala kekayaan tersebut, kalau kita tidak pandai menjaga kekayaan tersebut, kalau kita tidak pandai mengelola kekayaan tersebut, maka kita tidak boleh menyalahkan siapa pun atas nasib yang kita alami.
Saudara-saudara sekalian, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, penuh gejolak, perang di mana-mana, kita harusnya bersyukur bahwa bangsa kita sampai hari ini mengalami keadaan damai.
Kita mengerti negara sebesar ini pasti ada perselisihan paham, ada konflik, ada perseteruan, ada persaingan. Tetapi secara umum bangsa-bangsa lain mulai melihat bangsa Indonesia bahwa bangsa sebesar ini dapat hidup dengan harmoni, dengan saling menghormati, dan saling mencintai.
Baca Juga
Jalankan Pesan Presiden Prabowo, Natal Nasional 2025 Salurkan Rp 62,8 Miliar Bantuan Sosial
Di titik ini, Presiden mengaitkan persatuan kebangsaan dengan pesan rohani yang paling pokok: memaafkan, menolak benci, menolak dendam—bahkan ketika disakiti.
“Saudara-saudara, keluarga saya sebagian itu Nasrani. Tapi kadang-kadang kalau ajaran Nasrani yang paling pokok ya Monsinyur kalau tidak salah ya Pendeta, yang paling pokok adalah kalau pipi kiri kita ditampar kita harus kasih pipi kanan, betul?
Betul ya? Betul. Karena waktu kecil saya sekolah Kristen juga saya. Jangan-jangan saya mengerti cerita-cerita di Bible lebih dari saudara-saudara. Benar kan ajaran Nasrani kalau ditampar pipi kiri harus kasih pipi kanan? Harus memaafkan, kan begitu kan?"
“Forgive our trespasses as we forgive those who traspass against us." (Ampunilah kami seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami).
Jadi saya sebenarnya ya bagi saya itu selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan. Saya ingin cari persatuan daripada perpecahan. Memang kita masuk ke dalam kancah politik pasti persaingan sangat keras, ketat, dan tidak ada masalah. Masuk lapangan bola pun persaingan sangat keras, mana ada orang yang mau kalah, benar?”
“Kritik” Itu Bagus, tetapi Fitnah Merusak
Prabowo menilai ada paradoks sosial, rakyat kebanyakan sering lebih ikhlas, sementara pada lapisan elite muncul budaya nyinyir dan mengejek hasil kerja bangsa sendiri. Ia menegaskan, kritik dan koreksi adalah bagian sehat dari demokrasi, tetapi fitnah dan kebohongan yang memecah-belah adalah ancaman.
“Jadi saudara-saudara, ada memang kita harus akui dengan kebaikan bangsa Indonesia, elitnya juga banyak yang ya mau dikatakan apa ya, enggak tahu saya. Pengalaman saya, semakin tinggi di masyarakat sesungguhnya semakin apa ya, semakin kurang ikhlas begitu. Yang di bawah rakyat kita luar biasa, luar biasa rakyat kita di bawah, tapi semakin ke atas jadi ada budaya suka nyinyir, suka ngejek, apa yang dibuat oleh bangsa sendiri enggak bagus. Ini aneh itu, tapi tidak apa-apa karena ini banyak pendeta, banyak romo ya kan, jadi kita harus selalu sekarang bicara kebaikan."
Pada bagian lain, Presiden menegaskan batasnya jelas: kritik boleh, koreksi silakan, tetapi fitnah tidak. “Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Loh, demokrasi silakan. Koreksi silakan. Kritik bagus, tetapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak… tidak mengizinkan fitnah. Saya yakin di agama Kristen demikian juga: ‘Thou shall not lie’. Kebohongan itu tidak baik. Apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa merusak kita semua.”
Ia juga mengingatkan konteks zaman teknologi: media sosial dan podcast bisa membantu, tetapi juga bisa memproduksi kegaduhan karena orang “bicara asal bicara.”
“Saudara-saudara, ada yang… ini zaman teknologi. Jadi sekarang teknologi itu ada sosmed, iya kan?. Sosmed ini baik, tapi ada juga kadang-kadang bahayanya. Dengan banyak podcast-podcast, banyak pakar itu bicara asal bicara. Jadi saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikirannya Prabowo Subianto. Jadi kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast. Kira-kira apa ya yang sedang dipikirkan oleh Prabowo?. Ngarang gitu ya. ‘Prabowo sedang mau konflik internal dengan ini, nanti dengan itu’. Senangnya ramai, gaduh. Janganlah, Saudara-saudara.”
Indonesia Bangsa yang Bahagia
Di tengah perang dan gejolak global, Presiden menekankan Indonesia justru berada dalam kondisi damai. Ia menyebut hasil survei global Harvard University dan Gallup yang menempatkan Indonesia sebagai negara paling bahagia, dan mengaku terharu sekaligus “bingung” melihat paradoks: hidup sederhana, tetapi tetap bahagia.
“Saudara-saudara sekalian, baru saja keluar sebuah survei dunia yang dilakukan bersama oleh Harvard University dan Gallup, Gallup Poll. Di mana dari hampir 200 negara, negara yang rakyatnya setelah ditanya menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami bahagia, negara yang paling nomor satu di dunia sekarang rakyatnya mengatakan dia bahagia adalah bangsa Indonesia.
Ini mengharukan bagi saya karena saya paham bahwa sebagian besar rakyat kita sesungguhnya masih mengalami kehidupan yang sangat-sangat sederhana, yang berada dalam keadaan bisa harus kita akui keadaan yang belum sesungguhnya sejahtera. Tetapi kalau ditanya masih mengatakan bahwa dia bahagia. Ini membingungkan bangsa-bangsa lain, membingungkan bangsa-bangsa lain dan juga mengharukan bagi saya.”
Baca Juga
Lapor ke Prabowo, Ara Sebut Perayaan Natal Nasional 2025 Dihadiri 3.000 Tamu Kehormatan
Di titik ini, Prabowo menegaskan alasan pemerintah bekerja keras: mandat rakyat harus dijawab dengan kerja, bukan sekadar retorika.
“Karena itu, saya bersama pembantu-pembantu saya bekerja sangat keras. Sudah satu tahun kita menerima tugas dari bangsa Indonesia. Saya dibantu oleh pembantu-pembantu saya, orang-orang yang saya harus akui adalah orang-orang putra-putri terbaik bangsa Indonesia.
Tiga Kali Kalah, tetapi Tidak Boleh Sakit Hati
Presiden menautkan pesan rohani pengampunan dengan pengalaman pribadinya dalam kompetisi. Kekalahan, menurutnya, tidak boleh melahirkan dendam atau kebencian—seperti dalam pertandingan, setelah selesai harus kembali bersatu.
“Waktu kita kalah sepak bola saja sedihnya bukan main. Aku kalah pilpres berapa kali? Sudah lupa. (Suara riuh penonton). Tapi tidak ada masalah. Tidak boleh kita sakit hati. Tidak boleh dendam. Tidak boleh benci. Dan itu saya… saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu.”
“Waktu muda, waktu muda di Jakarta sebagai anak muda, kita selalu mau belajar bela diri. Kenapa? Kita tidak mau kalah kalau kita berkelahi. Jadi saya cari guru ke mana-mana, dan semua guru yang saya ketemu yang hebat silatnya, selalu mengajarkan: ‘Prabowo, kamu harus berani, tapi jangan dendam dan jangan benci’.”
“Dan ini saya kira ajaran semua agama kita. Jadi saya kadang-kadang kalau di keluarga saya… (suara tertawa) masa guru agama kalah sama guru bela diri. Beberapa saudara saya malah apa itu… suka marah sama saya. ‘Bow, kamu kenapa selalu… dia dulu begini-beginiin kamu’. Saya bilang itu kan dulu. Sekarang keadaannya harus… harus bersatu. Harus bekerja sama.”
Dalam suasana cair, Presiden juga menegaskan “hak podium” dengan gaya bercanda, sekaligus menandai bahwa pesan persatuan ini ia anggap serius.
“Dan Saudara-saudara, ini saya mau… saya mau gunakan kesempatan ini mumpung dikasih podium. Karena ada podium dan saya Presiden, Saudara terpaksa dengar. Benar kan? (suara riuh). Panitia tidak berani ingatkan saya: ‘Waktu, Pak’. Awas! Pokoknya ini podium terserah Presiden berapa lama. Masih kuat dengar saya? (penonton menjawab: Masih!). Mau kuat enggak kuat, Saudara harus dengar saya.”
Kalau Rakyat Pilih di 2029, Apa Salah Saya?
Presiden memaparkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai respons atas masalah gizi yang ia temui saat kampanye. Ia menyebut pembelajaran dari India dan Brasil, menyampaikan pendapat ahli, serta mengumumkan angka penerima manfaat yang menurutnya melampaui banyak negara.
“Makan Bergizi Gratis (MBG). Saya mencanangkan Makan Bergizi Gratis. Kenapa? Waktu saya kampanye, saya datang ke desa-desa, saya lihat anak-anak kecil umur 9, 10, 11 tahun, tapi badannya sama dengan anak 4 tahun. Dia alami kurang gizi.
Saya belajar dari India dan Brasil bagaimana mereka membantu rakyat miskinnya dengan makan bergizi gratis. Sekarang sudah ada 76 negara melaksanakan makan bergizi. Ahli dari Rockefeller Institute menyampaikan kepada saya di Istana Merdeka: ini adalah investasi terbaik Anda. 1 Rupiah investasi makan bergizi akan menghasilkan pelipatan nilai ekonomi 5 sampai 35 kali.
Baca Juga
Menteri Ara Jelaskan Makna Sederhana dan Berdampak di Gelaran Natal Nasional 2025
Saya hanya didorong oleh tidak sampai hati saya melihat anak-anak Indonesia kurang gizi. Hari ini, saya diberi laporan bahwa penerima manfaat MBG sudah mencapai 55 juta penerima manfaat. Itu sama dengan memberi makan 8 kali penduduk Singapura tiap hari. Brasil mencapai 40 juta dalam 11 tahun, kita 55 juta dalam 1 tahun.”
Menanggapi tuduhan politis soal 2029, Presiden menjawab langsung dengan logika pilihan rakyat dan kehendak Tuhan, seraya menyelipkan humor pemilu.
“Ada yang nuduh: ‘Oh, Prabowo bikin MBG ini supaya nanti 2029 dia dipilih kembali’. Selalu berpikir negatif. Tapi kalau rakyat pilih saya tahun 2029, apa salah saya? (Suara riuh). Kalau Tuhan mengizinkan, apa salah saya? Kalau Tuhan tidak mengizinkan, saya buat apa saja tidak akan terjadi, bener nggak?. Empat kali ikut pemilu, tiga kali kalah. Mungkin waktu itu Pak Luhut enggak dukung saya sih. (Bercanda).”
Swasembada Beras di Tahun Pertama
Prabowo menegaskan konsistensi gagasannya tentang swasembada pangan sejak lama, dan menyebut pencapaian swasembada beras sebagai bukti kerja pemerintah: target empat tahun tercapai dalam satu tahun, tanpa impor beras sepanjang 2025.
“Saudara-saudara sekalian, kita memiliki masa depan yang bagus. Walaupun ada kelompok nyinyir, ya kan? Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Kita akan bekerja dengan bukti, bukan dengan janji saja.
Yang jelas, waktu saya kampanye tugas sekian puluh tahun, saya selalu bicara: Indonesia harus swasembada pangan. Selalu saya bicara di mana pun. Waktu saya masih di Golkar pun saya sudah bicara itu. Saksinya banyak orang Golkar di sini karena saya alumni Golkar.
Saya tidak berubah. Begitu saya jadi Presiden, itu fokus saya. Dan saya beri target kepada tim saya: kita harus swasembada beras 4 tahun. Itu target saya, 4 tahun.
Saudara-saudara, di perayaan Natal ini saya dengan bangga hari ini bisa menyampaikan, begitu lewat 31 Desember 2025, bangsa Indonesia sekarang sudah swasembada beras. Tahun 2025 kita tidak impor beras sama sekali. Target 4 tahun, kita bisa capai dalam waktu 1 tahun.
Dan kita bantu tidak hanya bangsa Indonesia, kita membantu dunia. Kenapa? Dengan kita tidak impor beras, harga beras dunia turun ratusan dolar turunnya. Jadi banyak negara berterima kasih sama kita.”
Saya Milik Seluruh Bangsa Indonesia
Presiden Prabowo menutup pidato dengan menegaskan kembali agenda besar, persatuan sebagai syarat Indonesia menjadi bangsa sangat makmur. Ia menekankan persatuan tidak berarti semua masuk pemerintahan, tetapi kerja sama harus tetap ada, dan pelayanan negara tidak boleh diskriminatif.
Persatuan dan Harmoni Bangsa.
"Intinya itu yang ingin saya sampaikan. Negara kita hebat, negara kita kaya, dan bisa lebih makmur lagi asal pemimpin-pemimpinnya bersatu dan bekerja sama. Bersatu tidak berarti semua harus masuk pemerintah. PDIP boleh di luar. Boleh. Tapi kerja sama.
Saya dukung Pramono jadi Gubernur DKI. Betul. Apakah MBG nggak sampai ke Sumatera Barat karena aku kalah di sana? Nggak ada itu. Apa saya larang MBG ke Aceh? Tidak. Karena sekarang saya bukan milik satu partai, saya milik seluruh bangsa Indonesia.
Perayaan ini membuktikan bangsa Indonesia bangsa yang rukun dan harmonis. Saya bangga dengan contoh pemimpin kita. Bung Karno membangun Masjid Istiqlal, arsiteknya dia tunjuk orang Nasrani.
Saya bangun masjid di Hambalang, arsiteknya dan yang bangun orang Katolik. Saya punya orkestra dan band, pemain intinya orang Kristen. Suatu saat saya kaget, waktu Lebaran mereka melantunkan selawat Badar, selawat Rasulullah. Luar biasa. Orang Kristen memainkan selawat. Ini membuat hati saya merasa hangat. Saya bangga menjadi anak Indonesia.
Karena saya juga prajurit dulu. Waktu di tentara, anak buah saya ada yang Hindu, Katolik, Protestan…”.
Baca Juga
Hadiri Natal Nasional 2025, Hashim Djojohadikusumo: Selamat Natal dan Tahun Baru
Presiden lalu memperluas pesan persatuan itu, menyebut dimensi geopolitik: Indonesia sangat kaya dan diprediksi bisa menjadi negara sangat makmur, tetapi syaratnya jelas—bangsa harus bersatu, terutama elite harus kompak.
“Jadi Saudara-saudara, tidak hanya itu memang ajaran hampir semua agama. Itu ajaran guru-guru yang bijak. Tapi itu juga analisa geopolitik. Analisa geopolitik. Pakar-pakar geopolitik di dunia melihat Indonesia… di Indonesia ini luar biasa, sangat kaya. Sekarang masalahnya adalah bagaimana kekayaan ini kita jaga, kita kelola untuk bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.”
“Ini harus kita akui, Saudara-saudara. Jangan kita bangga dengan hanya kata-kata kaya, produksi ini, milik itu, tidak. Kita harus sekarang berjuang agar kekayaan itu benar-benar dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.”
“Kita harus menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia. Kita harus menghilangkan kelaparan dari bumi Indonesia.”
“Jadi Saudara-saudara, yang saya katakan tadi, pakar-pakar geopolitik mengatakan bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa keempat terkaya di dunia. Tapi ada syaratnya. Syaratnya adalah apabila bangsa Indonesia bisa bersatu. Syaratnya apa? Terutama apabila elitnya bisa bekerja sama.”
“Ini bukan Prabowo… begitu saya lihat baca itu berapa tahun yang lalu, saya semakin yakin. Akhirnya selalu saya ingin… saya ingin selalu mengajak apa pun perbedaan kita, apa pun mungkin dosa-dosa kita di masa lalu. Karena kita manusia pasti penuh dosa. Pasti ada kesalahan. Tapi sekarang kita harus bekerja sama, kita harus kompak, kita harus bahu-membahu. Yang kuat tarik yang lemah. Yang lemah berhimpun bekerja sama. Bersaing boleh, tapi begitu pertandingan selesai: bersatu. Bersatu!”
Presiden juga menjelaskan pandangannya tentang kritik sebagai “penyelamat”, dan kembali menegaskan batas antara koreksi dan fitnah, termasuk rujukan ajaran Islam tentang fitnah.
“Dan Saudara-saudara, kalau di agama Islam ada itu ajarannya: Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Bayangkan. Jadi yang kita harus waspadai sekarang, kalau kritik malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, kita tidak suka dikoreksi, tapi sesungguhnya itu mengamankan.”
“Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian anak buah kita lari: ‘Pak, silakan Bapak, Bapak kancingnya itu’. Loh ini anak buah kok berani koreksi? Tapi dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan Presiden muncul kancingnya tidak… iya kan?. (suara tertawa). Jadi kadang-kadang saya jengkel juga sama ajudan-ajudan saya. Cerewet banget nih. Tapi dia menjaga saya. Dia menjaga saya.”
“Berapa kali saya diselamatkan ya. Ini cerita waktu saya masih aktif ya. Saya keluar dari ruangan, mau ambil apel, enggak tahu saya sibuk atau apa, saya lupa pakai tanda pangkat. Lari anak buah saya: ‘Pak, jangan keluar, Pak, tanda pangkat Bapak tidak lengkap’. Oh iya. Jadi apa? Dia mengamankan saya. Kritik, koreksi, adalah menyelamatkan.”
“Jadi saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak: ‘Prabowo ini mau hidupkan lagi militerisme’. (suara tertawa). Tapi saya koreksi apa benar?. Oke, harus kita lihat. Panggil ahli hukum, panggil… di mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter.”
Prabowo kembali menegaskan Indonesia sebagai Bhinneka Tunggal Ika lewat kisah prajurit lintas iman, Sersan Stefanus dan Siprianus Gebo dari Ende, lalu meminta maaf bila ada ucapan yang menyinggung, serta menegaskan niat pemerintah untuk menghapus kemiskinan, kelaparan, dan meningkatkan kesejahteraan.
“Saya masih ingat… ada yang Katolik, ada yang Protestan, ada yang Hindu. Waktu saya perintahkan dia maju, apakah dia bertanya: ‘Pak, kenapa saya harus maju?’. Dia tidak bertanya. Dia melaksanakan tugas dia.
Dan yang mengharukan bagi saya, waktu saya memberitahu orang tuanya begitu kembali dari daerah operasi… saya beritahu… saya masih ingat nama prajurit itu: Stefanus. Saya masih ingat… Sersan Stefanus.
Ibunya datang… dia datang ke kantor saya membawa pakaian, perlengkapan, dan sepatu dinas. ‘Pak, ini kan milik negara, saya mau kembalikan’. Bayangkan. Kemudian, ‘Pak, saya hanya mau tanya satu: Apakah anak saya gugur dalam pertempuran oleh musuh?’. ‘Iya, Bu. Ibu harus yakin putra Ibu gugur sebagai kusuma bangsa dalam pertempuran’. ‘Kalau begitu, saya rela’.
Saya punya anak buah satu lagi orang Flores dari Ende. Masih ingat namanya: Siprianus Gebo, dari Ende. Saya ke rumahnya di Ende. Jadi Saudara-saudara, inilah Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda satu, satu tujuan. Marilah kita jaga persatuan kita. Marilah semuanya terus menggalang dan memajukan persatuan, kerja sama yang baik. Saling mengasihi, saling menjaga, saling menghormati, saling melindungi, dan saling memaafkan kesalahan-kesalahan kita.
Oleh karena itu, sebagai penutup… tapi kalau tanya orang Gerindra, penutupnya Prabowo bisa tujuh kali. Tapi kali ini sekali penutup.
Sebagai penutup, karena ini kebiasaan dalam perayaan semacam ini, saya pribadi sebagai Prabowo Subianto dan sebagai Presiden Indonesia, kalau ada kata-kata saya yang salah, yang menyinggung perasaan siapa pun, saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Niat saya dan niat pembantu-pembantu saya tidak ada lain: kami bekerja keras untuk menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia. Kami bekerja keras mengurangi penderitaan dan kesulitan rakyat kita, apalagi sekarang di daerah-daerah bencana. Kami bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.
Percayalah itu, itu niat kami, dan kami sangat optimis. Kami sangat percaya bahwa kami berada di jalan yang benar, di jalan di atas kebenaran, di atas keadilan, dan sesungguhnya hanya untuk kebaikan seluruh rakyat Indonesia.
Terima kasih. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera, Syalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Rahayu Rahayu. MERDEKA!

