Di Natal Nasional 2025, Prabowo Mengaku Bersyukur jika Dikritik dan Dikoreksi
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak masalah dengan kritik dan koreksi. Bahkan, Prabowo mengaku bersyukur jika ada pihak yang mengkritik dan mengoreksi. Menurutnya, kritik dan koreksi justru melindungi dan menyelamatkan dirinya.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam sambutannya saat Perayaan Natal Nasional 2025 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (5/1/2026).
Baca Juga
Jalankan Pesan Presiden Prabowo, Natal Nasional 2025 Salurkan Rp 62,8 Miliar Bantuan Sosial
Mulanya, Prabowo mengatakan, syarat agar Indonesia menjadi negara keempat terkaya sedunia adalah elite politiknya bersatu dan bekerja sama. Namun, kata Prabowo, bersatu bukan berarti tidak demokratis. Kepala Negara pun mempersilakan jika ada pihak yang mengoreksi dan mengkritik kebijakannya.
"Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Lho, demokrasi silakan, koreksi silakan, kritik bagus," katanya.
Prabowo mengaku bersyukur jika dikoreksi. Menurutnya, koreksi merupakan upaya untuk mengamankan dan menyelamatkan pihak yang dikritik.
"Kalau kritik malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, kita tidak suka dikoreksi, tapi sesungguhnya itu mengamankan, iya kan?" katanya.
Prabowo mencontohkan hal sederhana. Terkadang, katanya, terdapat anak buahnya yang mengingatkan jika terdapat kancing bajunya yang tidak terpasang rapi. Menurutnya, anak buahnya itu ingin melindunginya.
"Dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan presiden muncul kancingnya tidak... iya kan? Jadi kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget nih. Tapi dia menjaga saya, dia menjaga saya. Berapa kali saya diselamatkan, iya kan?" katanya.
Cerita lainnya, saat masih aktif di ketentaraan, Prabowo lupa mengenakan tanda pangkat. Hal itu, kemudian diingatkan oleh anak buahnya.
"Jadi saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak, 'Prabowo ini mau hidupkan lagi militerisme'. Wah, baru saya koreksi, apa benar? Oke baru kita lihat, panggil ahli hukum, panggil di mana, iya kan? Mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter," katanya.
Di sisi lain, Prabowo mengingatkan, fitnah dan bohong merupakan hal yang tidak baik. Bahkan, fitnah dan bohong merusak dan menimbulkan kebencian. Dikatakan, seluruh ajaran agama sepakat dengan hal tersebut.
Baca Juga
Prabowo Tak Masalah Ada Kelompok Nyinyir: Kita Kerja dengan Bukti
"Tapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak, tidak mengizinkan fitnah. Saya yakin di agama Kristen demikian juga, thou shalt not lie. Kebohongan itu tidak baik, apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa merusak kita semua," katanya.
"Jadi saudara-saudara, kalau di agama Islam ada itu ajarannya: Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Bayangkan. Jadi yang kita harus waspada sekarang," kata Prabowo menegaskan.

