KWI: Kesetaraan Antargenerasi Kunci Keharmonisan Keluarga
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Anggota Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Anna Surti Ariani menekankan pentingnya menghapus sistem gerontokrasi atau dominasi kelompok tua dalam lingkup keluarga. Hal tersebut disampaikannya dalam sebuah talkshow di Seminar Natal Nasional 2025.
Anna menjelaskan bahwa sistem yang hanya menganggap kelompok tua sebagai pemegang kebenaran mutlak dapat memicu perpecahan. Menurutnya, pandangan bahwa generasi muda tidak memiliki andil atau kurang diakui sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman saat ini.
"Perlu ada kesetaraan sebetulnya di dalam keluarga, semua akan punya kebenarannya masing-masing, semua akan punya sudut pandang yang mungkin berbeda," kata Anna, Sabtu (3/1/2026).
Baca Juga
Seminar Natal Nasional 2025, James Riady: Kemajuan Teknologi Harus Diiringi Kekuatan Rohani
Anna membedah karakteristik tiap generasi. Generasi tua dinilai unggul dalam kebijaksanaan, wawasan luas, dan pengalaman hidup yang matang. Namun, sisi lemahnya terkadang lambat dalam mengambil keputusan atau merespons perubahan.
Sebaliknya, generasi muda dikenal berani mengambil risiko dan cepat bertindak, meski sering dianggap kurang pertimbangan oleh generasi di atasnya.
"Akan menjadi lebih positif kalau keduanya ini segala generasi yang ada di dalam keluarga bisa saling berkomunikasi, berdialog, saling menghormati, saling respect pada satu sama lain," ungkapnya.
Baca Juga
Pesan Natal Nasional 2025, Ketua PGI: Allah Hadir Pulihkan Keluarga yang Rapuh
Anna kemudian menekankan pentingnya prinsip "Connect before Correct" sebagai fondasi dalam memperbaiki hubungan keluarga. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak akan bisa mengubah atau mengoreksi anggota keluarga lain tanpa adanya koneksi atau hubungan yang baik terlebih dahulu.
"Artinya kita harus berkoneksi dulu punya hubungan yang baik dulu sebelum kita mengubah atau mengoreksi orang lain. Dan ini akan bisa kita ciptakan dengan baik ketika kita menghargai semua generasi di dalam keluarga, saling berkomunikasi secara terbuka dan sehat dan bekerja sama dengan sebaik-baiknya," tuturnya.
Menutup sesinya, Anna meyakini bahwa kesetaraan dan kerja sama yang dimulai dari lingkup terkecil yakni keluarga, akan berdampak luas pada perbaikan kualitas kehidupan umat, gereja, hingga masyarakat secara umum.

